11 April 2007

Mencoba Hidup Tanpa HP

Thursday, October 20, 2005 - Mencoba Hidup Tanpa HP

Kehilangan sebuah HP pada tanggal 19 September 2005 adalah moment pertama saya dalam menikmati cuti kemarin. Entah hilang karena dicopet atau jatuh dari saku celana saat berjalan-jalan susuri sudut-sudut Semarang.
Saya memblokir dan menutup Nomor Kartu Halo saya, itu pun lima hari kemudian setelah hari kehilangan. Dari informasi yang diperoleh customer service Telkomsel saya masih diberikan kesempatan untuk membuka dan memakai kembali nomor HP semula dalam jangka waktu enam bulan kemudian setelah hari penutupan berlangganan Kartu Halo.
Saya pikir ini kesempatan saya untuk menyepi terlebih dahulu, selain menyepi dari hiruk pikuk kejaran Newmont Minahasa Raya, juga dari hal-hal yang kadang membawa saya pada sikap boros dalam penggunaannya.
Hilangnya HP Nokia 3660 yang saya beli baru dengan harga cuma Rp500.000,00--karena teman saya yang membayar sisanya--setahun lalu, Alhamdulillah tidak membuat hati ini gundah. Saya tidak biasanya seperti ini dalam menyikapi kehilangan sesuatu. Saya pikir itu bukan rezeki saya. Ada pemikiran positif bahwa ada hikmah yang tersembunyi di balik semua ini.
Saya berusaha mencari-cari hikmah itu. Ada satu yang baru saya temukan kemarin, yakni saya tidak perlu berusaha memeriksa saku celana dan mematikan HP saat akan mulai sholat berjamaah di setiap masjid yang saya kunjungi. Luar biasa, saya dapat menikmati saat-saat tenang memulai sholat sedangkan yang lain masih saja berusaha berkutat untuk mematikan HP saat imam sudah mengumandangkan takbir.
Selain hikmah itu, tentu saja ada efek dari hilangnya HP saya, apalagi kehilangan itu menjelang ramadhan. Saya tidak dapat mengetahui siapa saja yang telah menghubungi dan mengirimkan SMS kepada saya dalam rangka bersama-sama bergembira menyambut ramadhan. Untuk itu dalam kesempatan kali ini saya minta maaf kepada semua teman atas tidak terbalasnya pesan-pesan itu. Semoga kalian maklum adanya.
Wajib Pajak ternyata sering menghubungi saya dan saya berusaha memberikan penjelasan kepada mereka bahwa untuk saat ini sampai dengan waktu yang tidak dapat ditentukan, kiranya hubungan konsultasi hanya dapat melalui telepon kantor.
Efek lainnya adalah saya telah banyak kehilangan nomor penting. Tak mengapalah. Saya juga tidak bisa menghubungi Haqi, Ayyasy, Qoulan Syadiida dan sebaliknya, apabila terjadi keadaan darurat. Tak apalah masih ada wartel ini.
Saya mencoba tahu sebatas mana kemampuan saya dalam menghadapi bombardir iklan murah HP. Saya mencoba tahu sampai kapan saya bisa bertahan dalam sikap paradoksial manusia urban dan postmodern. Saya mencoba tahu sebatas mana kemampuan saya dalam ber-izzah untuk tidak meminjam HP para kawan. Saya mencoba tahu sebatas mana kemampuan saya menikmati ketenangan tanpa dering poliphonic calling dan sms. Saya mencoba tahu sebatas mana kemampuan saya menahan kerinduan akan suara-suara riang dari bocah-bocah cilik di rumah. Saya mencoba tahu bisakah saya hidup tanpanya?
Waktu yang akan berbicara.
Atau akankah rumput terus bergoyang menikmati dendang kesunyian.
Uh...Jaka sembung.




riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
hening bening
8:51 20 Oktober 2005

No comments: