19 April 2007

ZINAI ISTRI TETANGGA

ZINAI ISTRI TETANGGA

Waktu kultum kemarin di masjid Shalahuddin Kalibata, saya yang maju karena memang sudah dapat gilirannya. Saya nervous, saya tidak pandai bicara, saya demam panggung, saya batuk-batuk (kebiasaan begini memang kalau lagi stress), saya cuma bisanya nulis, ngeblog lagi. Tapi apa mau di kata tugas ya tugas. Saya memberanikan diri untuk menyampaikan secuil nasehat. Nasehat yang diharapkan bisa dilakukan oleh saya khususnya dan para jama’ah tentunya.
Keberanian ini memang harus diadakan karena dalam rangka kebaikan mengapa harus malu. Sedangkan banyak sekali orang yang melakukan kejahtan dan dosa malah bangga dengan dosanya itu. Ah yang benar....? Bener, coba saja lihat di fordis portal DJP, begitu banyak orang dengan entengnya menampilkan gambar-gambar seronok, tidak senonoh, tidak sopan, dan lain sebagainya. Eh...saat dinasehatin, malah ketawa-tawa, cengengesan, bangga lagi. Aneh...
Ya tapi tentang keberanian maju ke depan itu memang banyak godaannya. Godaan supaya kita tidak bisa bersikap ikhlas gitu loh...Godaan dengan senangnya dipuji orang dan ketakutan karena celaan orang. Ini sama-sama tidak ikhlasnya loh...Tidak berhenti di saat mau kultum atawa sudah berakhirnya kultum. Ditengah perjalanan pun si setan dengan mudahnya mengajak kita dalam kesesatan. Yakni dengan menikmati godaannya. Coba apa godaannya.
”Wahai manusia, tuh lihat betapa orang-orang seakan terpana mendengar omonganmu, maka cobalah bergaya dikit, tambah lagi intonasi suaramu...” kata setan. Intinya supaya kita ingin terlihat bagus di mata manusia, pujian lagi akhirnya. Dan tidak menginginkan kebaikan kita di mata Allah. Kalau begini caranya, niscaya sia-sia perbuatan kita ini. Sudah apa yang disampaikan tidak berbekas karena tidak berasal dari hati, tidak akan pernah lama ada dalam benak pendengar, juga tidak akan mendapat apa-apa dariNya. Masak menjual akhirat kita dengan hal dunia yang remeh temeh seperti ini sih...syirik lagi.
Nothing to lose poinnya. Biarlah apa dikata orang, mau memuji kek silakan, mau mencela, mengutuk, mencela, melaknat, ya silakan saja. Cuma penilaian Allah saja kok yang kita harapkan. Betul begitu kan? Tidak untuk yang lain. Tapi saya rasakan benar-benar susah sekali belajar ilmu ikhlas, ilmu yang dikejar-dikejar sama Andre Stinky untuk bisa melamar Sarah, karena calon mertuanya—Dedi Mizwar—menyaratkan demikian. Yah...namanya juga manusia, hidup senantiasa untuk memperbaiki diri.
Coba kita simak apa yang AsySyahid Hasan Al Banna berbicara Al-ikhlas dalam Rísalah Ta’alim-nya:
”Yang kami kehendaki dengan ikhlas adalah bahwa seorang al-akh muslim dalam setiap kata-kata, aktivitas, dan jihadnya, semua harus dimaksudkan semata-mata untuk mencari ridha Allah dan pahala-Nya, tanpa mempertimbangkan aspek kekayaan, penampilan, pangkat, gelar, kemajuan, atau keterbelakangan. Dengan itulah, ia menjadi tentara fikrah dan aqidah, bukan tentara kepentingan dan ambisi pribadi.”
Ah…jelas sudah bukan untuk ambisi pribadi. Tepat sekali. Menusuk dan menohok ke jantung. Bukan pula untuk yang lanilla, yaitu segala yang dapat meningkatkan harkat dan martabatnya di mata manusia.Jelas sudah.
Dengan berupaya nothing to lose itulah saya maju ke depan membahas satu hadits pada waktu yang singkat itu, cuma tujuh menit belaka. Diambil dari kitab Al-Wafie, terjemahan kitab syarah hadits Arbain. Saya mengambil hadits yang ke-15, yakni hadits tentang etika orang beriman.
Kurang lebihnya demikian hadits yang diriwayatkan Bukhari Muslim ini:
Tidaklah beriman pada Allah dan hari akhir sampai ia berkata baik atau diam, menghormati tetangga, dan memuliakan tamu.
Berkenaan dengan adab menghormati tetangga itu ada salah satu hadits di buku tersebut yang mengutarakan tentang bentuk penzaliman kepada tetanggga yaitu pada hadits di mana suatu saat Rasulullah ditanya perbuatan apa yang termasuk dosa besar. Rasulullah menyebut perbuatan pertama yaitu menyekutukan Allah, lalu setelah ditanya lagi perbuatan apa setelah itu adalah perbuatan membunuh anak, dan terakhir adalah menzinahi istri tetangga.
Nah, pada poin menzinahi istri tetangga itulah saya tekankan sampai dua kali. Sampai di sini tidak ada masalah. Delapan menit pun berlalu, kultum pun selesai. Baru setelah turun dari mimbar dan kembali ke ruangan kantor, teman saya pun berkomentar tentang masalah menzinahi istri tetangga. Ternyata ia melihat banyak jamaah yang saling berbisik saat saya mengutarakan hal ini.
Dan teman saya yang lain mengirim SMS kepada saya, begini bunyinya:
[....tapi jangan terlalu penekanan dong pada poin berzina sama tetangga, 2 kali lo Za, aku melihat banyak yang senyum lo poin itu, kayak di film saja]
Bukan hanya di fim saja, di media massa, wabil khusus di Poskota sering kita lihat fenomena ini. Itulah hebatnya Rasulullah, masalah ini tenyata benar-benar dipahami betul oleh beliau 14 abad yang lalu sehingga mewanti-wanti kepada umatnya untuk menghindari ini.
Paginya, saat saya bersilaturahim dengan kawan di Subbagian Umum, ternyata ada teman juga yang mengomentari kultum saya. Lagi-lagi tentang menzinahi istri tetangga, penekanannya pada pelarangan menzinahi istri tetangga, berarti boleh dong menzinahi istri bukan tetangga. Halah.... 
Seharusnya kita melihat kaidah yang lebih umum yaitu pelarangan berzina dengan yang bukan haknya. Yaitu pelarangan berzina dengan siapapun orangnya di luar hukum agama termasuk berzina dengan binatang. Yang mana hukum dari berzina ini sudah termasuk dosa besar. Apalagi menzinahi istri tetangga, bisa lebih besar lagi dosa yang didapat untuk para pelakunya. Botullll....
Yah itulah di saat saya lagi tidak melucu, orang bisa juga menganggap omongan saya lucu. Tapi di saat saya lagi melucu, tidak ada tuh orang yang tertawa...? (sudah bisa ditebak joke saya basi habisssss...).
So, zinahi istri tetangga....Na’udzubillaahimindzaalik, Semoga Allah melindungi kita dari perbuatan yang sedemikian rupa. Forever, ever,ever ...... 




riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
02:58 08 September 2006