18 April 2007

SILAKAN TINGGALKAN BOLIVIA

Monday, May 8, 2006 - SILAKAN TINGGALKAN BOLIVIA


Bismillaahirrohmaanirrohiim



SILAKAN TINGGALKAN BOLIVIA€¦!



Setelah saya cukup mengakui keberanian Kuba menghadapi dan mengejek dominasi Amerika Serikat (AS) dengan menawarkan kekuatan medisnya yang terkenal di jagat raya untuk melakukan operasi mata terhadap rakyat miskin AS. Juga memutuskan ketergantungannya terhadap sektor pariwisata--suatu sektor yang rawan dan sensitif dengan isu keamanan dunia, juga sektor yang antikemandirian.

Pun setelah saya cukup mengangkat jempol terhadap Iran atas kemandiriannya dengan memajukan sektor perindustriannya berupa produksi besar-besaran mobil nasionalnya. Keberaniannya menentang barat dan PBB yang menolak Iran untuk mempunyai program nuklirnya sendiri. Dan juga gebrakan ekonominya yang mampu untuk mengurangi tingkat kemiskinan absolut di negara itu sehingga pemukiman kumuh dan peminta-minta sulitlah dijumpai di jalanan Teheran.

Kini, kembali saya mengakui keberanian untuk mandiri dari salah satu negara di Amerika Selatan ini, BOLIVIA. Negara yang berbatasan dengan Paraguay dan Argentina di sebelah selatan, Brazil di timur dan utara, serta Peru dan Chili di barat ini melalui presidennya mengeluarkan aturan baru untuk menasionalisasi sumber daya minyak dan gas (migas) yang kini banyak dikelola perusahaan asing.

Jelas aturan baru ini sangat-sangat tidak berpihak dan mengancam investor asing yang telah banyak menanamkan modal di negara yang memiliki cadangan gas terbesar kedua di Amerika Latin setelah Venezuela. Tapi Evo Morales--sang presiden terpilih--menyatakan dengan tegas bahwa upaya ini dilakukan demi mendatangkan keuntungan yang lebih besar bagi negaranya, demi kemakmuran agar Bolivia terlepas dari julukan sebagai negara termiskin di Amerika Selatan.

Morales--sebagaimana diberitakan Republika (03/05) mengatakan: "Kami memulainya dengan nasionalisasi migas. Besok kami akan menambahnya dengan pertambangan, kehutanan dan semua sumber alam yang telah diperjuangkan nenek moyang kami.''

Dan Presiden dari negara yang 70% penduduknya miskin ini memberikan waktu sekitar 180 hari sejak tanggal 01 Mei 2006 kepada para investor asing untuk membuat kontrak bisnis baru dengan pemerintah Bolivia.

Jika tidak, sebagaimana ancamannya yang ia katakan kepada para investor asing--di antaranya Repsol Spanyol, Petrobras Brazil, BP Inggris, British Gas, ExxonMobil, Total Prancis: "Silakan tinggalkan Bolivia." (Republika, 05/05).

Untuk suksesnya menasionalisasi itu Morales memerintahkan Tentara Bolivia mengambil alih 56 ladang migas yang ada di negaranya dan meminta kepada rakyatnya bersama-sama membantu pemerintah mewaspadai sabotase yang akan menggagalkan upaya nasionalistik ini.

Morales belajar dari pengalaman dan keberhasilan dua negara latin lainnya yakni Ekuador dan Venezuela yang berani memperbaharui kontrak bisnis dengan negara asing. Bahkan, Venezuela menerapkan pajak yang tinggi untuk para eksportir minyaknya.

Langkah itu diharapkan bagi negara yang berpenduduk 8,8 juta jiwa ini (perkiraan 2005) adalah akan mendorong ekonomi dan menciptakan pekerjaan baru. Otomatis pengurangan keuntungan yang diperoleh negara asing akan meningkatkan pendapatan negara itu. Pendapatan tahun 2007 dari produksi gas diharapkan sebesar 780 juta dolar AS, sangat tinggi dibandingkan dengan tahun 2005 yang hanya sebesar 460 juta dolar AS.

Luar biasa. Negara yang luasnya hanya sepersepuluh luas Negara Kesatuan Republik Indonesia, tepatnya cuma 1.098.580 km persegi saja dan dengan sumber kekayaan alam yang masih kalah jauh di bandingkan Indonesia, berani melakukan sesuatu yang anti "pasar" (baca kapitalisme) atau antitrend menarik investor yang biasa dilakukan dari negara miskin identitas dan harga diri.

Sungguh lain sekali dengan apa yang dilakukan Indonesia yang tak berani merevisi sedikitpun 'kitab suci kapitalis' berupa kontrak karya. Atau lemahnya Indonesia dalam kasus Freeport, Blok Cepu, BUMN, dan dalam berbagai kasus pertambangan emas, perak, dan batubara yang berada di kawasan hutan lindung.

Yang paling anyar adalah pada kasus rencana revisi undang-undang ketenagakerjaan sebagai salah satu paket ekonomi terbaru untuk menarik investor asing. Lagi-lagi di saat nasionalisme dan harga diri bangsa tidak dijadikan prioritas, masyarakat pun menjadi korban. Hatta dibungkus dengan janji-janji pemberian kepastian hukum dan kesejahteraan buruh.

Mampukah pemerintah melakukan negosiasi ulang dengan Freeport atau buyback saham-saham Indosat yang ternyata diketahui tidak ada pasal yang memudahkan pemerintah untuk melakukan itu dalam perjanjian kontrak?

Atau mampukah pemerintah untuk tidak takut dengan ancaman yang selalu dilontarkan asing dengan arbitrase internasionalnya atau forum WTC-nya. Bahkan dengan ancaman tidak akan diberikan paket pinjaman lanjutan oleh World Bank

Saya jawab: "pesimis." Di kala banyak dari kita yang selalu mengatakan "Makan saja nasionalisme itu?". Di kala banyak dari kita para alumni sekolah-sekolah barat itu masih saja mengagung-agungkan gelar MBA., MSc., PhD. atau gelar akademis lainnya tanpa kerja nyata, dan masih memikirkan enaknya untuk duduk di kursi empuk jabatan.

Saya masih tetap pesimis di kala masih banyak dari kita memandang dengan sebelah mata kepada sekelompok orang yang menyeru memboikot produk-produk kapitalisme dan imperalisme. Bahkan mencibir mereka sebagai sekelompok orang yang terlalu emosional, pencinta heroisme masa lalu, tak bernalar, kolot, dan anti pasar.

Jika masih banyak sebagian dari kita gemetar ketakutan dengan tindakan balasan negara-negara besar yang akan memboikot Indonesia di segala bidang dan takut untuk berkurang makannya sebanyak tiga kali sehari, padahal masih banyak di antara saudara-saudara mereka yang tetap bersyukur dengan makan dua kali, sekali sehari atau tidak makan apa-apa dalam seharinya.

Saya masih tetap pesimis entah sampai kapan. Jika Bolivia saja bisa, kenapa Indonesia tidak. Jika Iran saja bisa kenapa Indonesia tidak. Jika Kuba saja bisa kenapa Indonesia tidak.

Tapi, sungguh saya masih percaya bahwa Indonesia dengan segudang kekayaannya melebih tiga negara tersebut sebenarnya mampu untuk berbuat seperti mereka yang melepaskan diri dari ketergantungan asing dan tidak menjadikan dirinya budak-budak kapitalisme dan imperialisme moderen.

Kalaulah kita kembali membaca sejarah masa lalu, sungguh Indonesia dengan beraninya sanggup menantang dunia dengan keluar dari keanggotaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), International Monetary Fund (IMF), International
Bank for Reconstruction and Development (IBRD) di tahun 1966. Yang menurut Soekarno badan-badan itu hanya diperalat oleh manipulasi politik
negara-negara imperialis.

Soekarno meyakini bahwa negara dan bangsa Indonesia dengan
bersenjatakan Panca Sila, Manipol dan Tri Sakti Tavip akan dapat
menjalankan politik Berdikari dengan konsekuen dan dengan itu akan
mencapai dunia baru yang penuh dengan keadilan, kemakmuran dan
kesentausaan. (Penjelasan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1966).

Tentunya kita lebih yakin daripada Soekarno bahwa Indonesia bersenjatakan iman yang menghunjam di dada, berbeliung amal nyata untuk masyarakat mampu untuk menjalankan politik kemandirian itu.

Apalagi ditambah dengan keyakinan pada ayat Allah:

27. Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. [AlFathiir 35]

28. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. [AlFathiir 35]

Maka sudah selayaknya bangsa Indonesia ini memiliki pemimpin yang benar-benar takut hanya pada Allah SWT. Tidak takut pada para thaghut besar ataupun thaghut kecil. Tidak takut pada negara asing. Yang berani berdiri gagah penuh izzah (kemuliaan) diri sebagai bangsa sederajat dan tidak seperti kerbau yang dicocok hidungnya menuruti perintah sang majikan pemberi dana.

Bangsa Indonesia perlu pemimpin yang tidak takut akan hinaan dan cercaan. Tidak takut untuk tidak terpilih lagi pada periode pemilihan mendatang, karena memandang jabatan adalah amanah bukan kebanggaan sehingga waktu dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kemakmuran bangsa.

Bangsa ini perlu pemimpin yang tidak takut kelaparan dan berani berkata lantang selantang seruan pemimpin Palestina kepada para penjajah dan pemboikotnya:

"Rakyat Palestina tak akan meninggalkan pemerintahnya meskipun ditekan dan diblokade. Kami akan tetap bertahan meskipun hanya dengan memakan garam dan buah zaitun. Keteguhan kami tak akan goyah karena kami setia terhadap prinsip-prinsip rakyat." (Kompas, 16/04)

Dan saya yakin sebenarnya pemimpin kita adalah para pemberani yang akan berteriak lantang penuh jumawa kepada asing bila ada rakyat yang berdiri berbaris mendukung di belakang para pemimpin kita.

Namun rakyat yang dipimpin pun sudah sepantasnya menuntut keteladanan dari para pemimpin sehingga diharapkan dengan keteladanan itu rakyat akan bersama-sama membantu pemimpinnya dengan ikhlas dan dengan pengorbanan yang tak akan dapat dihargai oleh siapapun, sebagaimana rakyat Iran, Kuba, Venezuela, dan Bolivia mendukung para pemimpinnya.

Subhanallah...sungguh kita merindukan pemimpin bangsa ini selayaknya kita merindukan kepemimpinan dua Umar: Umar bin Khaththab atau Umar bin Abdulaziz. Entah kapan...?



Maraji':

- Republika 03/05/2006

- Republika 05/05/2006

- Kompas 16/04/2006

- Wikipedia: Bolivia

- Ensiklopedi Keluarga A-Z

- Peta Dunia: National Geographic







dedaunan di ranting cemara

Ba'da Kedubes Panas Menyengat

20:32 07 Mei 2006

No comments: