18 April 2007

Inna Ma'iya Robbi Sayahdin: Surat terbuka untuk Ustadz Rahmat Abdullah

Monday, April 3, 2006 - Inna Ma'iya Robbi Sayahdin: Surat terbuka untuk Ustadz Rahmat Abdullah




Inna Ma'iya Robbi Sayahdin

Pengantar by: riza almanfaluthi

09.24 03 April 2006



Artikel yang dimuat di majalah Da’watuna dan ditampilkan di internet dengan alamat: http://pks-anz.org/pkspedia/index.php?title=Rahmat_Abdullah, dan kemudian disebarkan kepada anggota milis keadilan4all@yahoogroups.com, memang menghentak qolb saya yang juga merindukan kembalinya saat-saat di mana dakwah belum memasuki mihwar dakwah kelembagaan, yakni saat-saat dakwah masih berkutat pada marhalah dakwah keluarga.



Kerinduan akan pertemuan dengan al-akh yang penuh ruh ukhuwah. Kerinduan melihat begitu banyak al-akh yang dalam saku kemejanya selalu ada mushaf kecil untuk dibaca di saat waktu kosong, yang kini seakan tergantikan dengan kesibukan memijit-mijit tombol handphone.



Kerinduan akan semangat menggelora di dada saat turun ke jalan. Kerinduan akan ummahat yang selalu menutup rapat auratnya walaupun hanya keluar rumah sesaat. Kerinduan malam-malam yang penuh dengan muhasabah, mengingat begitu banyak waktu dan kesempatan dakwah yang tersia-sia.



Kerinduan akan majalah cerita Islami yang membuat hati tergetar dan menjadi pembuka jalan untuk turunnya hidayah Allah, yang sekarang tergantikan hanya untuk menuruti selera pasar. Atau kerinduan akan nasyid-nasyid pembangkit semangat yang seakan tergantikan dengan nasyid-nasyid mendayu-dayu bercerita tentang cinta.



Kerinduan pada azzam yang kuat untuk menjadi mujahid-mujahid freelance membela ummat di seluruh penjuru dunia dan pada kematian yang syahid. Kerinduan pada ikhwan dan akhwatnya yang selalu menjaga hijab dan pergaulan, yang seakan tergantikan saat ini dengan neo-ikhtilat, melalui friendster, chating, email, dan media maya lainnya. Dan begitu banyak kerinduan-kerinduan lainnya yang kini hanya menjadi sebuah kenangan.



Atau karena jiwa saya sendiri yang sakit? Yang ruhnya selalu kelaparan, kering kerontang dan gersang. Yang hari dan malamnya selalu penuh dengan sesuatu yang laghwu. Yang dalam ingatannya selalu dipenuhi dengan kenikmatan dunia, hingga melupakan keabadian yang hakiki di akhirat sana.



Yang dalam penampilan fisiknya selalu berkeinginan menjadi ikhwan metroseksual dan high technology minded, tidak lagi dengan tawadhu’ sebagai pakaiannya dan zuhud yang menjadi surbannya. Atau yang lebih parah adalah selalu mengatakan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan, ia tetap demikian agar dirinya selalu terpandang dan mulia di mata manusia.



Masya Allah, sebegitu parahkah diri ini? Bila memang demikian, maka patutlah untuk menyalahkan diri sendiri. Tak perlu selalu merindu. Dan tak perlu untuk menyalahkan ijtihadi dari para masyaikh yang selalu berpikir bagaimana caranya agar kapal besar bernama dakwah ini tetap terapung, tidak tenggelam di tengah samudra luas dengan angin ribut dan gelombang setinggi gunung.



Ikhwatifillah, maka nikmatilah surat terbuka ini, agar kita menyadari bahwa sungguh tidak ada yang salah pada jalan yang penuh coba dan rintangan ini, dan bahwa begitu banyak yang perlu kita benahi, bahwa begitu banyak yang perlu kita tajamkan pada sisi-sisi tumpul jiwa ini, bahwa begitu banyak yang perlu kita segarkan pada ruh-ruh penuh dahaga ini.



Ikhwatifillah, nikmatilah surat terbuka ini:







Surat terbuka untuk Ustadz Rahmat Abdullah: ANA RINDU DENGAN ZAMAN ITU.



Ustadz yang dikasihi Allah.

Sudah lama ana ingin menulis surat seperti ini, untuk sekedar silaturahmi
dan melepas rasa rindu karena lama tak bertemu. Awalnya ana sempat khawatir
karena tidak semua orang suka dengan surat sebagai media silaturahmi.
Mungkin karena keterbatasan bahasa tulis untuk mengekspresikan makna sebuah
nasihat, usulan atau kritikan. Atau kadang-kadang suasana hati yang sedang
tidak mood ketika membacanya. Akibatnya nasihat bisa dianggap muslihat,
usulan seolah ingin menjatuhkan dan kritik dirasa sangat sarkastik. Akhirnya
surat yang dimaksud sebagai media silaturahmi, nasihat, kritik, maupun saran
itu malah berubah menjadi masalah.



Namun rasa rindu ana akhirnya mengalahkan kekhawatiran itu. Kerinduan untuk
bersua, meski hanya dalam lembar-lembar surat ini. Semoga Ustadz bersedia
membaca coretan ini dan maafkan jika ada pilihan kata yang tak berkenan.



Ustadz yang dirahmati Allah.

Sesungguhnya kerinduan ana yang lebih dahsyat lagi adalah kerinduan
menikmati masa-masa indah saat pertama kali mengenal dakwah bersama Ustadz.
Saat ketika halaqah menjadi kebutuhan, bukan sambilan atau tempat mampir
sepulang dari kantoran. Saat ketika membina adalah kewajiban bukan paksaan
atau beban yang memberatkan. Anapun rindu ketika dauroh menjadi kebiasaan
bukan sekedar program yang dipaksakan.



Rasanya nikmat sekali ketika hampir setiap pekan pergi ke Puncak untuk
mengisi dauroh. Meski ongkos ngepas dan peta yang tak jelas. Kadang kuyup
pula kehujanan atau nyasar dikegelapan. Ana juga rindu saat pintu rumah
diketuk ditengah malam untuk berkumpul esok paginya. Atau pergi jaulah
keluar kota untuk ta'lim silaturahmi atau sekedar menjadi muwajih pengganti.
Begitu juga kerinduan saat merasakan kenikmatan hadir di liqo, bertemu
dengan ikhwah dan memberi makanan hati dan nurani. Ustadz.terus terang, banyak hal-hal mengasyikkan yang telah hilang dari dakwah ini, dan dari diri ana tepatnya.



Ustadz yang disayangi Allah.

Satu saat di pesta walimahan seorang ikhwah belum lama ini, ana
ngobrol-ngobrol dengan beberapa ikhwah yang lain. Ternyata kami merasakan
hal yang sama, bahwa sudah lama kami tidak menghadiri lagi walimahan yang
benar-benar dipisah antara tamu ikhwan dan akhowatnya seperti "zaman" itu.
Kami merasakan adanya pergeseran sikap di kalangan ikhwah. Padahal, pada
"zaman" itu, para akhowat berani kabur saat walimahannya hanya karena harus
duduk bersanding berdua didepan para tamu. Ada juga yang pura-pura pingsan,
sakit perut, kejang kaki, dan entah apa lagi yang dilakukan. Mereka hanya
ingin menolak ikhtilat sebisa mereka mampu. Hebat sekali mereka.



Tapi kini, ikhtilat seakan menjadi biasa saja. Jangankan pesta walimahannya,
proses pernikahannya pun ada yang rada-rada aneh. Ada yang ngetek jauh-jauh
hari, ada yang memberi kriteria tapi sangat spesifik, ada yang uraian
kriterianya sampai dua lembar, bahkan ada yang mengawalinya dengan proses
ta'aruf sendiri. Baik telpon-telponan, SMS, atau bahkan bertemu langsung.
Berdua, hanya berdua. Sesuatu yang sangat tidak mungkin terjadi pada "zaman"
itu. Jangankan berduaan, berpapasan dijalan saja saling menjauh dan bertamu
hanya dari balik pintu. Kadang lucu juga kalau ingat masa itu.



Ustadz.Ana semakin rindu pada "zaman" itu. Ketika tsiqoh pada murobi membuat
kami merasa aman untuk saling terbuka. Tsiqoh membuat hubungan kami merasa
nyaman dan mengasyikkan. Dengan tsiqohlah kami merajut tali ukhuwah dengan
tsiqoh pula kami mempercayakan proses pernikahan kami. Seingat ana,
rata-rata kami memang hanya mengandalakan ketsiqohan pada murobi dalam
urusan memilih pasangan. Karena kami tahu betul, bahwa murobi tidak
memutuskan sendiri. Ada banyak mata dan telinga lain bersamanya. Dan yang
terpenting, kami memahami bahwa murobi adalah perpanjangan tangan jama'ah
dalam kedudukannya itu. Itulah modal besar kami dalam berdakwah di marhalah
dakwah keluarga.



Ustadz yang diberkahi Allah.

Ana membaca beberapa tulisan Ust. Mahfudz Sidik di majalah SAKSI tentang
kekeruhan hubungan ikhwan-akhowat yang kader hingga bikin ana melongo.
Temuan kaderisasi DPP tentang masalah ini semakin membuat ana nggak
mengerti, apa yang sesungguhnya tengah terjadi dengan penghuni rumah besar
tarbiyah ini. Masalah datang bertubi-tubi tak henti-henti. Menggoyang
pilar-pilar bangunan, membuat dinding bergetar dan atapnya berderak-derak.



Bukan saja menimpa para kader muda yang gadis dan bujangnya, tapi juga
menimpa para suami, para istri, para murobi bahkan para asatidznya juga.
Dari mulai anak-anak ustadz yang mulai ABG tapi belum juga ngaji (halaqoh),
aktitivis kampus yang dilanda virus merah jambu, juga para suami yang
bermasalah dengan istri-istrinya karena trend ta'adud, kekerasan keluarga,
PIL/WIL, hingga perceraian. Ada juga yang bermasalah di liqo, rekrutmen yang
lemah, pembinaan payah, sampai ada kader inti yang tidak punya binaan bahkan
ada yang berbulan-bulan tidak hadir di liqonya. Entahlah ia menganggap liqo
sebagai apa.

Masalah lainnya adalah kecemburuan sebagian kader pada ikhwah kita yang
menjadi aleg. Kecemburuan yang menjadi hasad, bergeser menjadi ghibah,
su-udzon, iri bahkan ujungnya jadi ambisi.



Ana ingat salah satu nasihat ustadz tentang hal itu, ".Memangnya kita tidak
senang melihat kesenangan saudara kita. Yang tadinya tidak punya motor
sekarang punya, yang tadinya menjadi kontraktor kini punya rumah sendiri."
Ana merasa nasihat itu mampu meredam sebagian sas-sus di kalangan ikhwah.
Itulah pentingnya nasihat dan teladan dari seorang guru dan murobi seperti
Ustadz. Adem rasanya.



Meski memang tidak dipungkiri, ada juga beberapa aleg yang agak berlebihan
dalam mengekspresikan "syukurnya" dihadapan ikhwah yang lain. Bahkan ada
pula yang memang jelas-jelas bermasalah.



Ustadz yang dirahmati Allah.

Ada yang bilang masalah-masalah itu datang sebagai konsekwensi logis dari
pilihan kita sendiri. Pilihan kita ketika memasuki mihwar dakwah kelembagaan
(parlemen) setelah sebelumnya berada di mihwar tandzimi dan sya'bi. ".Hiruk
pikuk politik sedemikian keras menggema hingga memekakkan telinga,
membutakan mata dan mematikan rasa." Kata sebagian mereka. Ana tidak sepakat dengan ungkapan itu, tapi menurut ana tidak juga semuanya harus ditolak.



Alhamdulillah, sebuah kebaikan dari pilihan kita itu sudah mulai kita
rasakan. Cukup banyak untuk disebutkan. Satu kemenangan luar biasa dalam
dunia dakwah kita. Anugerah Allah yang seharusnya disyukuri dengan
sedalam-dalam keikhlasan. Meski tentu saja tanpa menutup-nutupi beberapa
masalah yang timbul bersamanya. Keterbukaan tandzim, agak terabaikannya
pembinaan, melemahkan maknawiyah kader dan membengkaknya pembiayaan dakwah,
adalah diantara masalah-masalah itu. Namun ana yakin, kita tidak akan
berhenti apalagi mundur karena masalah itu. Seperti Musa yang terjepit di
tepi laut Merah dan kejaran tentara Fir'aun.



Ana masih ingat taujih Ustadz ketika menggambarkan situasi itu dan kaitannya
dengan kondisi da'i dalam menghadapi ujian. Ketakutan, kecemasan,
kesempitan, siksaan dan pembunuhan menjadi selesai dengan kalimat "Inna
ma'iya Robbi sayahdin."(Sesungguhnya aku selalu bersama Rabb-ku yang akan
memberiku petunjuk). Rahasianya adalah hubungan kita dengan Allah maka
situasi apapun yang dihadapi ketika bersama Allah, maka akan selalu mendapat
kebaikan, meski nyawa sebagai taruhannya.



Ustadz yang diberkahi Allah.

Ana masih sepakat jika ada yang mengatakan bahwa ustadz adalah simbol dakwah
ini, bukan karena kultus individu, tapi lebih karena peran dan posisi ustadz
dulu dan kini. Apalagi kini sebagai aleg, semakin banyak kader mengharap.
Melihat contoh teladan ustadz sebagai aleg parlemen. Sampai ada yang bilang,
"Kalau Ustadz Rahmat juga bermasalah di parlemen, siapa lagi yang akan kita
lihat teladannya."



Memang, ana rindu betul melihat murobi kembali jadi teladan. Teladan dalam
kesigapan taat, dalam kesiapan menerima kritik, dalam kehadiran, dalam
semangat tatsqif, dalam kebugaran fisik, dalam hafalan, dalam banyak bacaan,
dalam amalan sunah, dalam bermasyarakat, dalam.banyak hal yang menjadi
muwashofat kader menuju profil idaman 2009.



Ustadz yang disayangi Allah.

Kedepan, kita pasti membutuhkan energi lebih besar untuk memikul beban
dakwah yang berat ini. Kesolidan tandzim dan kekuatan maknawiyah kader sudah
menjadi keharusan. Selain itu Ustadz, kebijakan, sifat kebapakan dan qudwah
dari para asatidz, murobi dan pengambil keputusan di level atas agar tetap
terjaga. Termasuk kearifan memberlakukan iqob bagi para kader yang
melanggar. Tentu saja iqob itu perlu diberlakukan, sebagai bagian proses
tarbiyah itu sendiri. Tapi kesalahan juga adalah sifat manusiawi khan
ustadz? Artinya bisa menimpa siapa saja. Termasuk para kader bahkan kader
inti sekalipun.



Sungguh, nasihat-nasihat sejuk dari ustadz sangat mempengaruhi kader-kader
yang khilaf, lupa, bersalah atau bahkan memusuhi. Semoga dengan begitu,
mereka akan kembali ke habitat tarbiyah yang berkah ini.



Ustadz., semoga ini bisa mengurangi kerinduan ana.

Semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan kekuatan untuk Ustadz dan para
asatidz yang lain dalam menjaga dakwah negri ini. Sehingga tidak ada yang
tegak kecuali kalimat al-Haq, tidak ada yang tinggi kecuali panji Ilahi, dan
tidak ada yang menang kecualai para pendukung kebenaran. Hingga tidak ada
lagi fitnah, dan Ad-din ini hanya bagi Allah saja. Hingga terwujudlah
keadilan dan kesejahteraan di bumi pertiwi ini. Aamin ya mujibas sailin.



(No Name)

Sumber: Majalah Dakwatuna.

No comments: