23 April 2007

AL-IKHWAN WAHABI PEMBERONTAK [3]

AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [3]
[tulisan ketiga]

Setelah dalam dua tulisan sebelumnya diuraikan latar belakang berdirinya Al-Ikhwan dan mesranya hubungan mereka dengan pemimpinnya Abdul Aziz maka pada tulisan yang ketiga ini akan diuraikan bagaimana benih-benih perpecahan yang sudah mulai tumbuh kian membesar. Sampai diperlukan bai’at kembali kepada Abdul Aziz.
Tapi sebelumnya perlu diperhatikan hal ini:
"Tapi Robert Lacey dalam catatan kakinya di halaman 180 sudah mewanti-wanti bahwa kelompok Al-Ikhwan dari Nejd ini tidak ada kaitannya dan tak boleh dicampuradukkan dengan Al-Ikhwan Al-Muslimun (Persaudaraan Muslim) yang dibentuk di Mesir di tahun 1930-an dan masih aktif sampai saat ini."

”Mereka adalah anak-anakku”
Ketika kaum Ikhwan di tahun 1925 memasuki Jeddah, mereka langsung memutuskan kabel-kabel telepon, temasuk saluran yang menuju rumah Abdul Aziz. Menurut mereka telepon adalah penemuan baru—seperti mobil dan radio—yang tak bisa dimengerti cara kerjanya.
Dalam suatu kesempatan pertemuan dengan Abdul Aziz mereka memberikan peringatan, ”Dengan direbutnya tanah Suci, Muslim yang baik haruslah menjaga diri jangan sampai terbujuh oleh pengaruh asing,” kata Faisal al-Dawisy. Semua harus waspada, jangan sampai ke luar dari jalur murni ajaran Islam. Mereka harus siap untuk menghukum siapapun yang melakukan hal itu.
Adik Abdul Aziz, Abdullah bin Abdul Rahman yang telah ditunjuk sebagai panglima pasukan Saudi di Hijaz merasakan bahwa sikap Al-Ikhwan ini begitu menantang. Tiap hari ia harus berhadapan dengan sikap menyakitkan hati dari kaum Ikhwan di bawahnya. Ia harus selalu menghibur mereka, membujuk mereka agar mau mengikuti perintah. Dan ia merasa bahwa sikap menantang ini kalau dibiarkan terus akan berbahaya. Mereka harus ditindak tegas sebelum tak bisa dikendalikan lagi.
Tetapi Abdul Aziz hanya menertawakan kekhawatiran adiknya itu. ”Kaum Ikhwan adalah anak-anakku,” katanya. Maka jika salah satu Ikhwan itu mengatakan bahwa kumisnya terlalu panjang, Abdul Aziz segera memanggil tukang cukur untuk memotongnya di depan umum dan menganggapnya sebagai suatu gurauan belaka.

Mahmal
Keangkuhan Al-Ikhwan menjadi-jadi di musim pertama haji di tahun 1926 setelah Jeddah jatuh. Masalahnya dimulai dari kain hitam berhias emas yang menutupi Ka’bah. Secara tradisional kain ini dijahit oleh ahli-ahli Mesir dan sebagai hadiah tahunan Mesir kepada Hijaz. Setiap tahun pemberangkatannya dari Emsir dilakukan dengan upacara besar-besaran, dinaikkan ke sebuah tandu kehormatan yang diberi Mahmal.
Setiap tahun mereka membuat barisan panjang, ribuan banyaknya, diatur dan dilindungi oleh sepasukan kecil pengawal yang bersenjata. Dan ini merupakan tantangan bagi Al-Ikhwan. Bagi mereka, tandu yang berhias indah, penghormatan yang begitu berlebihan kepada Mahmal, setara penyembahan tehadap berhala. Apalagi pasukan pengawal bersenjatanya yang sepertinya melukai rasa kebanggaan mereka. Ditambah suara terompet mereka yang mencemari kesucian Mekah. Ini tak berampun lagi. Al-Ikhwan melempari mereka dengan batu. Orang Mesir bertahan. Terjadilah pertempuran sengit. Abdul Aziz muncul dan menyerukan agar Al-Ikhwan mundur. Sektiar 40 orang jama’ah tewas dan sejak saat itu mahmal tidak lagi diarak megah di jalan-jalan Mekah.
Kaum Ikhwan menganggap ini sebagai kemenangan kecil. Sebab menurut ukuran mereka, penakhlukan Hijaz ternyata jauh di bawah harapan mereka. Hanya beberapa jam setelah membantai mereka yang sesat di Taif, setelah itu Abdul Aziz mengekang harapan mereka melakukan ’penyucian’ terhadap Hijaz, tak boleh merampas, bahkan tak ada kebanggaan jika menang. Abdul Aziz telah bersekongkol dengan penduduk Madinah untuk mencegah Al-Ikhwan merusak kuil-kuil mereka, ia bahkan melarang Al-Ikhwan menyerang Badui-badui Hijaz. Ini mengecewakan mereka.

Insiden Perbatasan
Al-Ikhwan gagal di segala bidang. Abdul Aziz telah berdamai dengan para pemuka Hijaz serta ingin memberikan gambaran yang baik tentang dirinya pada para perwakilan negara asing sehingga ia bertindak seolah-olah pasukannya sendirilah musuhnya. Karenanya setelah luntang lantung di Hijaz selama setahun, Al-Ikhwan pulang ke Nejd dengan membawa sedikit sekali rampasan, kemegahan kemenangan, cuma rasa kecewa yang besar dan kekhawatiran tak akan ada lagi tugas untuk mereka.
Jantung persoalannya adalah dengan Al-Ikhwan Abdul Aziz bisa menguasai Nejd dan Hijaz. Dan jika Abdul Aziz ingin mengembangkan lagi wilayahnya di luar dua daerah itu maka ia harus berhadapan dengan Inggris, sama sekali tak mungkin. Inggris tak mau kehilangan lagi sekutu Hasyimiyahnya jatuh.
Karena kecewa dan haus akan kemegahan menjadi pemenang serta kenikmatan merampas yang tak mereka peroleh di Hijaz, Al-Ikhwan mengarahkan pandangan ke arah Timur Laut, daerah yang secara tradisional menjadi sasaran kemarahan Wahabi, daerah perbatasan kaum Syiah yang mereka anggap menduakan Allah. Maka awal 1927, serangan ke daerah perbatasan Irak semakin menjadi dan hebat.
Korban mereka, kelompok pengembara biri-biri dan pekerja di Pos Polisi di Busaiya. Faisal al-Dawisy secara pribadi meimpin beberapa penyerangan untuk menunjukkan hak kaumnya untuk pergi ke mana pun mereka suka. Pesawat Inggris membalas dengan mengebom para penyerang dan kemudian mengejar mereka sampai masuk ke wilayah Nejd.
Inggris pun mengajukan protes. Mulanya Abdul Aziz membela rakyatnya karena pembangunan pos-pos polisi itu memang melanggar adat kebiasaan suku-suku Badui. Abdul Aziz menghadapi persoalan rumit untuk menjelaskan terhadap Al-Ikhwan tentang adab-adab dunia Internasional pada saat itu. Mereka tak mengerti dan tak peduli bagaimana pemimpin mereka harus menyesuaikan diri dengan batasan-batasan dunia yang lebih luas dari mereka. Mereka bahkan siap untuk menggulingkan sang pemimpin bila ia tidak mau memimpin mereka menghancurkan pos-pos kaum kafir itu.
Abdul Aziz berusaha menerangkan kepada delegasi Inggris di Perundingan Jeddah Mei 1928 bahwa perbuatan mereka di luar sepengetahuannya. Tapi Inggris tak mudah percaya karena ia sepertinya menarik keuntungan dari gerakan Al-Ikhwan itu. Dan tetap saja di tahun tersebut penyerangan dan pertumpahan darah terjadi.

Pembaharuan Ba’iat
Perundingan Jeddah gagal. Abdul Aziz harus kembali ke Nejd dan menerangkan kegagalannya kepada Al-Ikhwan tentang tak mampunya ia membongkar pos polisi di Busaiya. Mungkin mendengar ini mereka akan melakukan perang suci dengannya atau tanpanya.
Ia yang telah menanamkan dan mengembangkan kefanatikan di orang-orang berpikiran sederhana itu. Ia yang telah membuat mereka menganggap semua yang bukan Wahabi sebagai penjelmaan Iblis. Ia yang mendapatkan keuntungan dari kefanatikan mereka itu penakhlukan Rasyid, menjatuhkan Hijaz, mendamaikan dunia luas dan kini menghadapi kekeraskepalaan Al-Ikhwan. Pun kini ia harus menerangkan dan mengatakan kepada mereka bahwa mereka tak mungkin melawan Inggris, karena sia-sia saja.
Dengan penuh persoalan pelik dihadapannya ditambah kepergian sang Ayah, Abdurrahman, di bulan Juni 1928, ia merasa putus asa. Kalau saja ayahnya tidak meninggal, mungkin kehadirannya bisa membantu untuk menghadapi pertentangan yang semakin tajam antara Al-Ikhwan dan dirinya. Maka ia mengambil suatu tindakan drastis yang mungkin akan dapat membantunya mengatasi semuanya.
Ia mengundang seluruh tokoh dan ulama Nejd di Riyadh di Nopember 1928 untuk merundingkan sistem perbentengan Irak serta keluhan lain dari Kaum Ikhwan. Sekitar 800 orang yang hadir kecuali tiga tokoh utama Al-Ikhwan: Faisal Al-Dawisy, Suktan bin Bijad, dan Dhadhan bin Hithlain.
Tapi ada satu hal lagi yang perlu diungkap kepada mereka. Abdul Aziz berdiri tegak di hadapan musyawarah tersebut dan menawarkan secara resmi untuk turun tahta, dan berkata, ”pilihlah salah seorang anggota keluargaku.”
Semua terpaku dan tercengang. Seketika semua berteriak ramai menolak usulnya. ”Kami hanya menginginmu sebagai pemimpin kami!” para delegasi itu berteriak. Seluruhnya berdiri di belakangnya. Memperbaharui ba’iatnya. Abdul Aziz tahu sepeninggal ayahnya tak ada satu tokoh di keluarganya yang bisa menampung kesetiaan dari seluruh golongan—kecuali dirinya. Dan ia menawarkan untuk mengundurkan diri karena yakin bahwa hal itu akan ditolak oleh semua orang. Tapi setidaknya dengan ini memberikan pandangan kepada dunia bahwa pada dirinya puncak keabsahan kekuasaan Saudi terletak.
Setelah menutup persidangan itu, ia minta kepada para ulama memberi pesan tentang telepon dan radio, dan mereka menyatakan bahwa dalam Al-Qur’an dan Hadits tidak ada keterangan bahwa kedua benda itu diharamkan. Para wakil Al-Ikhwan kecuali tiga orang di atas telah memperbaharui janji setianya pula dan akan memihak kepada Abdul Aziz bila terjadi pertentangan dengan tiga tokoh Al-Ikhwan itu asal dengan syarat Abdul Aziz dapat menghancurkan pos polisi tersebut dalam jangka waktu dua bulan. Abdul Aziz menyanggupi sesuatu yang rasanya takkan mungkin terjadi.

Bersambung.

Maraji’:
1. Kerajaan Pertrodolar Saudi Arabia, Robert Lacey, Pustaka Jaya, 1986;
2. History of The Arabs, Philip K. Hitti, PT Serambi Ilmu Semesta, 2005;
3. Ensiklopedia Islam, PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1999


Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
12:54 26 Maret 2007
Kalibata Masih Membiru

No comments: