23 April 2007

AL-IKHWAN WAHABI PEMBERONTAK [TERAKHIR]

AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [TERAKHIR]
[tulisan keempat]

Pada tulisan terdahulu diuraikan tentang benih-benih timbulnya ketidaksukaan para pemimpin Al-Ikhwan kepada Abdul Aziz maka pada bagian terakhir ini diterangkan tentang upaya Al-Ikhwan melancarkan bughot melawan amirnya, Abdul Aziz bin Abdurrahman.
Catatan: "Tapi Robert Lacey dalam catatan kakinya di halaman 180 sudah mewanti-wanti bahwa kelompok Al-Ikhwan dari Nejd ini tidak ada kaitannya dan tak boleh dicampuradukkan dengan Al-Ikhwan Al-Muslimun (Persaudaraan Muslim) yang dibentuk di Mesir di tahun 1930-an dan masih aktif sampai saat ini."

Pertempuran Sabillah
Al-Ikhwan tidak bisa sesabar Abdul Aziz menunggu dua bulan. Mereka tidak bisa berpikiran tenang dan berpertimbangan matang. Justru kefanatikan yang tidak masuk akallah yang membuat mereka bertentangan dengan Abdul Aziz. Beberapa minggu setelah pertemuan Riyadh, mereka melancarkan serangan bertubi-tubi yang membuat perdamaian takkan mungkin dicapai lagi dan menghilangkan simpati yang selama ini mereka peroleh.
Di bulan Desember 1928 mereka menyerang rombongan pedagang unta Nejd di Jumaymah, dekat perbatasan Irak. Semua dibunuh dan hewan dagangan mereka dirampas. Sekelompok orang Badui di sebelah utara dibantai pula oleh sepasukan Al-Ikhwan. Nyata-nyata bahwa Al-Saud dan Nejd tidak lagi menghadapi suatu perselisihan agama melainkan penghancurkan negara baru Abdul Aziz.
Mereka menolak kewajiban suatu masyarakat, peraturan yang ada, tak mau menetap dan membentuk pemukiman Ikhwan yang tetap. Mereka ingin kembali menjadi bangsa Badui yang bisa mengembara kemana saja. Faisal Al-Dawisy menulis surat kepada Saud Bin Abdul Aziz, ”...Kau telah menjauhkan kami dari agama kami, kau telah menjauhkan kami dari kesenangan duniawi kami.”
Pasukan kendaraan bermotor dikirim Abdul Aziz di bulan Maret 1929 dipimpin oleh Abdullah Suleiman al-Hamdan, juru tulis kepercayaan Abdul Aziz yang berhasil mengorganisir pengadaan bahan bakar, suku cadang, dan mesiu. Iringan pasukan itu menuju Anayzah dan Buraydah untuk mengumpulkan bantuan. Abdul Aziz menggunakan uang dan pegnaruhnya pada suku-suku Badui yang ada. Ia memberi 6 pound emas kepada kepala suku yang berhasil membawa sukunya untuk bergabung. Tiga pound untuk orang biasa dan kota yang ikut berperang dan dengan janji tambahan lainnya bila tugas selesai.
Di akhir Maret 1929, pasukan Abdul Aziz berhadapan dengan pasukan Faisal al-Dawisy dan Ibnu Bijad di padang Sabillah dekat Artawiya. Tiga berbanding satu. Pasukan pemberontak kalah jauh diukur dari kuantitas pasukan.
Al-Dawiys dan Ibnu Bijad pemimpin penyerangan yang paling ulung. Mereka tak biasa berhadapan dengan lawan yang begitu besar. Tapi mereka mengira bahwa Abdul Aziz tak bisa bertempur lagi, karena Abdul Aziz secara pribadi terakhir ikut pertempuran 12 tahun yang lalu. Mereka yakin Abdul Aziz hanya pandai bicara saja. Dan mereka yakin kemenangan ada di tangan mereka karena sejak 1919 merekalah yang berperang untuk Abdul Aziz. Ketakberanian Abdul Aziz menghadapi Inggris secara langsung, menurut mereka, menajdi tanda kelemahan yang tampak dari Abdul Aziz.
Tapi Abdul Aziz masih cukup galak. Berulang kali utusan pencari kedamaian antara kedua belah pihak saling berunding, mencoba merumuskan gencatan senjata. Tapi gagal. Abdul Aziz marah besar saat utusan Ibnu Bijad tidak mau menjawab salam sebagaimana kebiasaan mereka yang tidak mau menjawab salam kepada mereka yang dianggap ”Bukan Muslim Sejati”.
Bahkan saat Faisal Al-Dawisy datang sendiri ke Abdul Aziz, Abdul Aziz sudah tak punya selera lagi berdamai dan menyarankan kepada mereka untuk menyerah. Saat Al-Dawisy pulang kembali ke perkemahannya, ia mengabarkan bahwa orang-orang Saud itu cuma sekumpulan orang-orang lemah lemas yang hanya bisa tidur di atas kasur. ”Mereka tak berguna sama sekali, bagaikan pelana unta tanpa pegangan,” kata Faisal kepada Ibnu Bijad.
Keesokan paginya Abdul Aziz berkuda mengepalai pasukannya. Ia turun sesaat untuk mengambil segenggam pasir dan melemparkannya ke arah musuh. Segera pertempuran dimulai. Al-Ikhwan berada diketinggian dan telah membangun suatu tumpukan batu sebagai tempat perlindungan. Di balik itu mereka bisa menembak dengan aman. Saat mereka melihat pasukan Saudi mundur—yang sebenarnya hanya untuk mengambil kesempatan makan pagi yang sudah begitu terlambat—Al-Ikhwan menganggap ini adalah gerakan mundur besar-besaran.
Dengan gembira pasukan Al-Ikhwan menyerbu meninggalkan kubu mereka, mengejar. Tapi mereka langsung dibabat oleh dua belas senapan mesin yang sengaja disembunyikan dan tempat kedudukannya sangat dirahasiakan. Singkatnya ratusan orang roboh, yang selamat cerai berai melarikan diri. Abdul Aziz menyuruh pasukannya mengejar. Pertempuran Sabillah hanya berlangsung setengah jam saja. Inilah kekalahan Al-Ikhwan yang pertama.
Para perempuan Al-Dawisy memohon untuk menyerah. Faisal Al-Dawisy tertembak di punggungnya tapi masih hidup. Abdul Aziz memberikan mereka ampun, tapi tak membiarkan pemukiman Ibnu Bijad utuh, ia menghancurkannya dan menahan Ibnu Bijad. Lalu Abdul Aziz memberi hadiah pada pasukannya yang setia, memberi ganti rugi kepada yang telah berkorban, menyuruh mereka pulang, dan ia sendiri berangkat hají ke Mekah. Ia pikir, Al-Ikhwan telah tamat.

Berontak Kembali
Pemuka Al-Ikhwan yang satu lagi, Dhaidhan bin Hithlain, sedang berada di daerah Timur saat pertempuran Sabillah berlangsung. Kekalahan dua sekutunya mendorongnya untuk segera berdamai. Maka di bulan Mei 1929, ia merundingkan perdamaian dengan Fahad bin Abdullah bin Jaluwi.
Ia diundang ke tenda Fahad. Setelah berunding pada malam harinya Ibnu Hithlain pamit untuk pulang kemahnya. Namun Fahad memintanya untuk menginap. Ditolak oleh Ibnu Hithlain karena ia harus memenuhi janjinya kepada sukunya—Ajman—untuk segera kembali setelah perundingan. Bila tidak memenuhi janji itu maka suku Ajman akan meluruk mereka, ke tempat itu.
Fahad merasa bahwa ini merupakan ancaman terselubung, maka ia memerintahkan pengawalnya untuk menahan Ibnu Hithlain dan kesebelas pengiringnya. Dan meminta mereka dibunuh jika orang-orang Ajman itu datang. Dan benar ketika suku Ajman datang, mereka dibunuh. Padahal di saku Ibnu Hithlain ada surat jaminan keselamatan dirinya yang ditandatangani oleh Abdul Aziz, Abdullah bin Jaluwi, dan Fahad sendiri. Orang Ajman membunuh Fahad sebagai balasan, ditembak tepat di antara kedua matanya.
Al-Ikhwan marah besar, bahkan suku-suku Nejd lainnya karena mereka menganggap bahwa undangan Fahad itu tipu daya semata agar ia bisa membunuh Ibnu Hithlain, dan ini sebuah kepengecutan. Faisal al-Dawisy mengobarkan gerakan angkat senjata dan kini dengan kekuatan yang lebih besar lagi. Ini berbahaya bagi Abdul Aziz karena ia masih berada di Mekah, jauh dari Riyadh dan jika ia ingin kembali ke sana maka ia harus bertempur di sepanjang perjalanannya.
Kali ini pergaulannya dengan Inggris—kaum kafir—berbuah besar. Inggris yang menginginkan kestabilan di semenanjung Arab memaksa merubah politik devide et-impera-nya. Di musim panas di tahun 1929, dukungan terhadap Abdul Aziz dari berbagai penjuru wilayah kekuasaan Britania datang bertubi-tubi. Inggris melarang penguasa di Irak dan Kuwait untuk mengambil keuntungan dari kekisruhan di Nejd. Senjata mengalir dari India. Dengan dukungan tersebut Abdul Aziz menyeberangi Arabia dengan iring-iringan kendaraan bermotornya dan dikawal dengan enam senjata mesin.
Abdul Aziz bergerak ke timur laut. Kekuatan Inggris dikerahkan untuk mencegah Al-Ikhwan tidak lari ke arah yang sama. Agen-agen Inggris mengirimkan telegram ke Riyadh tentang pergerakan Al-Ikhwan. Abdul Aziz sendiri mengatur gerak pasukannya dengan jaringan radionya.
Azaiyiz anak Faisal ad-Dawisy memimpin 600 prajuritnya diikuti pula oleh kaum Ajman dan beberapa pejuang tua Mutair melancarkan serangan ke bagian utara Arabia. Di bulan Agustus 1929 pasukan itu merobek-robek Arabia utara, mengumpulkan kawan dan menghancurkan kawan. Serangan mereka sampai jauh di utara Hail dan berhasil merampas ratusan ekor unta dari kaum Syammar dan Amarat, merampas sebuah kafilah yang berisi uang 10.000 real hasil tarikan pajak Saudi yang akan diantarkan kepada Gubernur Hail.
Namun bawaan besar itu membuat perjalanan Azaiyiz semakin berat apalagi mereka sudah kekurangan air. Sumber-sumer air yang berusaha diduduki Faisal telah dikepung rapat oleh pasukan Gubernur Hail. Semangat mereka semakin mengendur. Di oase Umm Urdhumah mereka sekarang berhadapan. Di satu sisi Abdul Aziz bersama pasukannya yang segar-segar karena menguasai sumber air dengan di sisi lain pihak Al-Ikhwan yang kehausan karena kantung air yang sudah kosong. Apalagi onta-onta mereka yang sudah empat hari tidak minum.
”Allah bersama kita, Al-Ikhwan pilihan-Nya,” teriak Azaiyiz menyemangati. ”Kita harus terus maju dan memenangkan sumber air itu. Allah akan memberkati pengikut-Nya.”

Pertempuran terjadi di siang hari yang panas, tak karuan, dan kejam, tak berampun, satu lawan satu, di mana tak ada yang memberi dan meminta ampun. Kaum Al-Ikhwan sia-sia memekikkan teriakan kemenangan karena Abdul Aziz terus menambah bala bantuannya. Sore harinya walaupun Al-Ikhwan sudah membabat ratusan lawan, tapi tak sanggup menguasai oase. Azaiyiz tak bertenaga lagi karena lelah, lapar, dan haus diseret oleh lima orang budaknya dan bersembunyi di perbukitan pasir. Dua bulan kemudian mayat mereka ditemukan di tengah padang pasir, kering kerontang, agaknya sedang berjalan pulang.
Sebanyak 250 prajurit Al-Ikhwan tertawan dan dipenggal semuanya. Dan Ibnu Musa’id yang memimpin pertempuran tersebut saat mendengar bahwa di balik bukit masih terdapat 40 orang yang bersembunyi, memerintahkan pasukannya untuk menembaki orang-orang itu tanpa ampun. Kekalahan yang memilukan.

Mati di Penjara
Sisa-sisa Al-Ikhwan masih menjarah rayah sampai musim dingin tahun 1929. Tapi Faisal al-Dawisy yang sudah kehilangan anaknya telah kehilangan pula semangatnya. Ia mulai menasehati yang lain agar menyerahkan diri saja, mungkin Abdul Aziz mau mengampuni mereka. Sedangkan Faisal sudah memastikan bahwa dirinya tak akan mendapat ampun.
Pemberantasan terhadap sisa-sisa Al-Ikhwan dilakukan. Faisal—dalam rangka melindungi wanita, anak-anak, dan ternaknya—meminta perlindungan kepada Inggris melalui Kapten Dickson untuk bisa masuk Kuwait. Pemerintah Inggris menolak. Pasukan Abdul Aziz semakin menjepitnya. Di akhir Desember 1929 sekelompok orang Mutair berusaha meloloskan diri dari kepungan tapi ketahuan dan tak dibiarkan satupun hidup.
Beberapa puluh kilometer dari tempat itu Faisal Al-Dawisy ditemukan dengan kelompok kecilnya oleh pasukan Inggris. Padahal ia baru saja diserang oleh suku Badui lainnya yang masih setia pada Abdul Aziz. Kini ia cuma punya tiga pilihan: menyerah pada Abdul Aziz, pada Inggris di Irak, atau pada Inggris di Kuwait.
Ia memilih yang terakhir. Ia meminta Inggris berjanji bahwa ia tidak akan diserahkan kepada Abdul Aziz jika Abdul Aziz tidak berjanji untuk tidak membunuhnya.
Pada tanggal 28 Januari 1930, Angkatan Udara Inggris membawa Faisal Al-Dawisy dan dua orang bawahannya ke pangkalan Abdul Aziz dekat perbatasan Kuwait. Abdul Aziz telah menyiapkan suatu majelis berlebih-lebihan untuk menyambutnya. Abdul Aziz menangis tersedu-sedu saat memeluk Faisal Al-Dawisy dan mengajaknya berciuman di hidung sebagai kebiasaan orang Badui.
Abdul Aziz memegang janjinya kepada Inggris. Faisal tak dihukum mati. Ia memenjarakannya seumur hidup. Lalu 18 bulan kemudian Faisal Al-Dawisy meninggal di penjara karena daging tumbuh di tenggorokannya yang terus menerus mengucurkan darah. Al-Ikhwan musnah sudah.
Dua tahun kemudian, September 1932, Abdul Aziz menyatakan seluruh daerah Arabia, Nejd dan Hijaz adalah milik Al-Saud dan menyatakan daulah barunya sebagai Kerajaan Arab Saudi. Dengan lambang berupa dua pedang yang bersilang dan menyempurnakan lambangnya dengan gambar pohon kurma di atasnya sebagai lambang para penghuni daerah oase, para penghuni kota yang telah mapan. Tidak dengan lambang unta di atas dua pedang tersebut, suatu lambang bagi kaum Badui yang pasukan sucinya telah sangat membantu menegakkan kerajaan dan pula yang hampir saja membuat kerajaannya hancur.

***
Demikian sejarah singkat dari keberadaan Al-Ikhwan, yang pada awalnya bahu-membahu dan seide dalam pemahaman keberagamaan dengan pemimpinnya, Abdul Aziz, namun pada akhirnya dengan pemahamannya tersebut serta kesederhanaan alami mereka yang menyebabkan mereka melakukan pemberontakan terhadap pemimpinnya sendiri.
Maka pantas saja—seperti disebutkan di bagian pertama tulisan ini—sang Amir harus bersikeras dengan panitia masjid untuk mengubah nama masjid dalam proposal itu dengan nama yang lain asal tidak dengan nama Al-Ikhwan, karena Al-Ikhwan identik dengan Osama bin Laden. Dua-duanya—menurut mereka—adalah pemberontak.

Alhaqqu min rabbika.
Allohu’alamu bishshowab.



Maraji’:
1. Kerajaan Pertrodolar Saudi Arabia, Robert Lacey, Pustaka Jaya, 1986;
2. History of The Arabs, Philip K. Hitti, PT Serambi Ilmu Semesta, 2005;
3. Ensiklopedia Islam, PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1999


Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
12:54 26 Maret 2007
Kalibata Masih Membiru

No comments: