19 April 2007

SEMANGAT CINTA DI FORUM KELUARGA

SEMANGAT CINTA DI FORUM KELUARGA

Setelah sang penjaga DSHNet itu pergi meninggalkan kantor pusat untuk menjalankan tugas di tempat baru, dan setelah begitu terbengkalai halaman depannya dengan berita-berita basi yang tidak up to date, dan setelah tanggung jawab di forum diskusi dipunggawai oleh salah seorang al-akh yang lain, tiba-tiba saja DSHNet itu menghilang.
Apa yang saya rasakan? Kalau Anda yang pernah membaca tulisan saya sebelumnya yang berjudul: akhir dari penantian panjang? di http://10.9.4.215/blog/dedaunan/11493 maka Anda akan melihat betapa rindunya saya dengan DSHNet. Rindu yang membuncah kerana saya sendiri yang tidak merasakan kelezatan berita DSHNet, asyiknya mengirim tulisan di partisipasi, dan lain-lain.
Tetapi sekarang, saya belum merasakan kerinduan itu. Walaupun lagi-lagi serasa seperti tercerabut dari akarnya. Mungkin dikarenakan tidak hanya saya yang kehilangan tetapi banyak teman yang senantiasa di setiap harinya memantau dan menemukan eksistensi dirinya di DSHNet, entah sebagai komentator dari berita-berita yang ada, atau sebagai pengirim ucapan yang setiap setiap saat di menu Kirim Ucapan, atau sebagai seorang yang haus akan kekerabatan di forum keluarga, bahkan penempur sejati di forum dakwah dengan segala cacian dan makiannya.
Berkaitan dengan forum inilah yang membuat saya merasakan ketidakrinduan ini terkecuali untuk bersilaturahim dengan para peserta forum di Keluarga. Karena selain di forum Keluarga—terutama di forum dakwah dan politik yang ada hanyalah kecaman, celaan, dan fitnah yang dibungkus dengan nasehat manis belaka. Yang tiada habis-hasbinya setiap hari digunakan untuk membongkar kelemahan kawan atau manhaj tertentu lainnya. Yang sudah pasti memang sudah berbeda dari sononya dan tidak pernah akan ketemu kalau tidak ada salah satunya yang mengalah.
Ternyata, hikmah apa yang saya dapatkan dari kehilangan DSHNet ini. Ini pengakuan jujur dari saya. Saya bisa lebih concern untuk memikirkan yang lain. Untuk menulis, untuk beraktivitas pada kegiatan utama sebagai seorang petugas pajak, untuk menambah hafalan, untuk membuat proyek ebook dari kumpulan tulisan saya di blog dedaunan di ranting cemara.
Saya lebih concern pula dengan membuat rencana materi apa yang diberikan kepada calon kader-kader Islam yang tangguh (Insya Allah). Dan terpenting lagi kini saya kembali lebih sering untuk bersilaturahim dengan sanak-saudara di blog Cicadas ini. Syukur yang tak terkira, walaupun dengan komentar seadanya kepada kawan yang lain dikarenakan lambatnya akses.
Dan apa yang saya tidak rasakan lagi setelah hilangnya DSHNet ini. Saya tidak lagi merasakan hati panas karena membaca komentar-komentar yang sepenuhnya penuh dengan kebencian itu terhadap manhaj dakwah yang saya pegang dengan erat ini. Pikiran-pikiran untuk mencari pembelaan yang ujung-ujungnya tetap saja dicaci itu pun tidak ada lagi. Pun hari-hari berhati gersang karena terlalu memikirkan celaan kini sudah tiada lagi. Insya Allah.
Dan itulah hikmah yang saya rasakan. Damai saja kiranya yang ada. Sudahlah, yang sudah berbeda ya tetap berbeda, kenapa sih ”kalian” masih tetap memaksakan kami dengan sebutan penghuni neraka karena dianggap tidak nyunnah. Kita masing-masing sudah punya ulama yang kita tsiqoh-i (percayai) bukan...? mengapa”kalian” yang panas...? tanya kenapa? (halah...) Sepertinya memang sudah terlalu banyak mudhorotnya tinimbang manfaatnya forum tersebut (terkecuali forum keluarga, ekonomi dan iptek tentunya, oh ya ada juga yang baru: forum pajak). Usul saya forum tersebut ditutup saja deh... 
Tapi satu kehilangan pasti adalah tiadanya berita Islam yang hot. Apakah saya harus membuka kembali situs Islam lain di pulau Sumatera itu? (nama dan alamatnya pun saya lupa, ada yang tahu?) Kehilangan lainnya adalah saya tidak bisa berbagi cerita dan berita bagus dari milis yang saya ikuti tentang kondisi umat Islam sedunia untuk saya beritahukan kepada khalayak di Forum Keluarga.
Ah...kiranya saya cuma merindukan fordis keluarga. Di sana ada Abu Salma, Umminya Zaidan, Abu Yazid, Atik Faizah, Ananda, Dandelion, Abu Umar, Brazkie, Abu Sa’ad, Salsabila, dan lain-lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu karena saking banyaknya. Mereka dan yang lain setidaknya menghidupkan silaturahim di forum keluarga itu. Ada semangat cinta di antara mereka. Cinta karena Allah tentunya. Cinta yang tidak dibungkus dengan semangat jarh wa ta’dil yang kebablasan itu.
Pula di sana saya pikir ada semangat koreksi yang tulus untuk sesama penghuni. Semangat berbagi yang tulus pula (berbagi resep kue seperti yang Umminya Zaidan lakukan). Semangat menulis buat para pengirim partisipasi (jangan pernah lemah semangat yah...). Semangat melankolis dengan puisi-puisi indahnya di Zona Poetry-nya. Ah...cukup banyak sekali semangat-semangat yang saya temukan di sana. Ah, kiranya saya merindukan forum keluarga. Itu saja.
Tapi kapan rindu ini tertuntaskan jikalau DSHNetnya pun tidak kunjung tiba. Atau jangan-jangan saya saja yang tidak tahu, kalau-kalau DSHNet kini sedang dipersiapkan dengan tampilan baru, funny, dan eye catching, tentunya pula dengan semangat baru oleh sang punggawa baru. Siapa tahu ...? Semoga.




Riza Almanfaluthi
“Mas Danang S H. kemana dikau pergi…?,” (halah...)
dedaunan di ranting cemara
02:32 30 Agustus 2006

No comments: