17 July 2007

BUKAN KUCING GARONG

BUKAN TENTANG KUCING GARONG

Salah satu tips agar tulisan yang kita buat dapat menarik pembaca untuk membacanya sampai akhir adalah pemilihan judul yang bagus. Helvy Tiana Rosa, Ahad 15 Juli kemarin, memberikan tips-tipsnya kepada para peserta diskusi cerita pendek (cerpen) Forum Lingkar Pena se-Jabodetabek.
Diskusi dua mingguan yang diselenggarakan FLP Depok ini memang dikhususkan untuk membedah cerpen-cerpen yang layak untuk dibedah. Setelah mengundang Ratno Fadillah pada pertemuan pertama dengan format baru, maka pekan kemarin mengundang Helvy Tiana Rosa untuk membedah tuntas 19 cerpen yang masuk.
Format baru pembedahan cerpen ini adalah dengan membuat kumpulan cerpen itu dalam sebuah buku. Waktu bedah pertama judul yang diambil sebagai judul kaver adalah Bulan Redup (Bojo Loro)—ada gambar ilustrasinya lagi, di bagian belakangnya ada puisi yang berjudul Rajah Cinta (Ananda di Palembang pasti ingat sekali puisi ini ). Untuk kali yang kedua judul yang diambil sebagai kaver adalah judul cerpennya Ratno Fadillah “Menanti Paman Izrail”. Menurut saya ciamik sekali cerpen ini memainkan emosi pembaca.
Pantas kalau Helvy memasukkan cerpen ini sebagai cerpen yang mempunyai judul yang menarik. Lebih menarik daripada judul cerpen yang dinobatkan menjadi jawara pada pekan itu yang berjudul: Terbasuh Megatruh karya dari Indarpati. (Untuk mengetahui lebih dalam tentang dirinya coba search di Paman Google, maaf soalnya saya lupa nama blognya). Tidak hanya itu cerpen Ratno juga termasuk dua cerpen terpilih oleh Helvy yang mempunyai pembukaan menarik selain cerpennya Denni Prabowo yang dimuat di Jawa Pos berjudul: Mayra.
Kembali kepada masalah judul cerpen—ini menurut Helvy, tapi bagi saya tidak hanya untuk cerpen, semua karya tulis pun senantiasa harus memiliki judul yang bagus—maka untuk bisa membuat judul yang menarik ia harus punya kriteria-kriteria seperti di bawah ini. (Kriteria dari Helvy, Penjelasan singkat dari saya).
1. Judul menggambarkan cerita
Terkadang penulis terjebak untuk menggadaikan isi cerita demi judul. Contohnya sebuah tulisan yang berjudul Kucing Garong misalnya. Judulnya memang menarik. Tapi ternyata isi tulisan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan Kucing Garong baik secara tersurat ataupun tersirat. Ini hanya gara-gara lagu dangdut cerbonan itu lagi ngetrend diputar di sembarang tempat. Di bis AKAP, warung remang-remang sepanjang pantura, televisi, radio, kafe dangdut, pasar malam, dan lain sebagainya. Yeah…!
Menanti Paman Izrail, adalah judul cerpen yang menggambarkan isi cerita. Diinspirasi peristiwa bunuh diri ibu dengan tiga orang anaknya, cerpen ini dimulai dengan bujukan seorang ibu kepada anak-anaknya untuk menanti pamannya yang akan datang esok hari. Dan untuk menemui paman yang baik hati itu tentunya sang Ibu harus membunuh tiga anaknya itu. Karena Paman Izrail itu sebenarnya adalah malaikat maut.

2. Enak diucapkan
Salah satu kritik yang dilontarkan Helvy pada cerpennya Indarpati yaitu pada judulnya, yang walaupun ber-rima karena berakhiran uh di setiap katanya, tapi bagi Helvy judul ini tidak menarik. “Kenapa tidak Megatruh saja?” tanya Helvy. “Apa karena takut meniru judul cerpennya Danarto yang berjudul sama?” cecar Helvy. Boleh-boleh saja kok kita punya cerpen dengan judul sama,“ kata Helvy tegas. Indarpati cuma berkomentar ”Mbak Helvy tidak merasakan ruh Jawa dari cerpen saya ini”. Maklum cerpen Indarpati ini budaya lokalnya kental banget. Njawani, beda dengan kultur dari Mbak Helvy yang orang Medan- Aceh.
Lalu judul yang enak diucapkan itu seperti apa? Ini masalah subyektifitas. Dan setiap orang punya nilai subyektifitas yang berbeda. Enak diucapkan bagi saya yah seperti ini: Kucing Garong, Bojo Loro, Mayra, dan lain-lain. Minimal tidak membuat lidah kepleset karena sulit untuk diucapkan, contohnya Entrepreneur yang Keblinger, Jamahiriah Trap. (Untuk Pak Ekonov, maafkan saya karena telah berani-beraninya mengkritik judul topik Anda di forum diskusi kita)

3. Boleh puitis tapi tak berlebihan
Bulan Redup, Malam Selalu Gelap bisa jadi adalah cerpen-cerpen yang judulnya puitis tapi berlebihan. Sudah tahu malam itu gelap dan bulan itu selalu redup tak seterang mentari di siang bolong, lalu mengapa tetap dipaksakan untuk ditulis? Semua orang tahu kok. Tapi untuk judul sebuah puisi, sah-sah saja. Tapi ini prosa bo…bukan puisi.
Juga yang termasuk berlebihan adalah seperti ini “Meraup Rembulan Menakar Malam Mencumbu Derita”. Terlalu panjang dan seperti nama jurus di cerita silat Kho Ping Hoo. Sekalian saja ditambahkan “Menggedor Bumi, mencengkram Naga.” Persis bukan?
Yang puitis tapi tidak berlebihan seperti apa? Banyak sekali. Contohnya judul tulisan yang dibuat oleh Rifki (Key-key), Ketika Tangan dan Kaki Berkata. Atau dari Bayu Gawtama, Cinta yang takkan Mampu Terbayar.

4. Pakai Kalimat Negasi
Maksudnya adalah judul hendaknya memakai kata atau kalimat penyangkalan, pembatalan, peniadaan, berlawanan dengan kodrat alam. Misalnya Bukan di Negeri Dongeng, Perempuan yang Membelai Luka, Perempuan yang Mencabik Luka, Menari di atas Luka, Tak Harus Menjadi Miss Universe.
Tapi sayangnya banyak juga penulis terjebak di sini. Alih-alih ingin membuat judul yang bernegasi tapi ia membuat judul yang membuat kontroversi dan melanggar aturan masyarakat atau agama yang suci. Karena bagi yang berkecimpung di dunia kepenulisan, syahwat seperti ini begitu rawan untuk meledak. Seperti judul yang memanusiakan Tuhan, yang menuhankan Rasulullah (saya sampai tak enak untuk menuliskannya, Nau’dzubillah), atau alat kelamin wanita.
Menurut saya alangkah lebih baik saat penulis menggunakan kalimat yang bernegasi ia menghindari segala sesuatu kontroversial atau tabu di masyarakat. Soalnya kita tidak bisa berlindung dibalik kebebasan berkreasi seperti yang didengung-dengungkan penulis barat. Tetap syariat yang menjadi utama agar tulisan itu tidak kehilangan sesuatu yang mencerahkan buat yang lain.
Nah itulah tips-tips membuat judul yang bagus yang diberikan oleh Helvy. Judul yang bagus harus berkaitan erat dengan isi. Isi yang menarik dengan judul yang bagus seperti sayur dengan garam. Tidak bisa terpisahkan. Tapi tips-tips ini mungkin tidak berlaku untuk dan pada semua orang, karena seorang penulis sekaliber Putu Wijaya terbiasa untuk menggunakan judul yang di luar pakem seperti di atas, judul yang aneh, dan tidak menarik sama sekali. Tapi masalahnya apakah kita sekaliber Putu Wijaya?
Itu saja. Semoga bermanfaat.



Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:48 16 Juli 2007

MUKA BANDIT

MUKA BANDIT

Sabtu pagi pukul 10.00 tepat saya meninggalkan halaman masjid tempat pertemuan pekanan dilakukan untuk menuju bandara Soekarno Hatta menjemput paman saya yang akan tiba dari Arab Saudi. Menurut SMS yang saya terima dari rombongan keluarga paman saya yang sudah terlebih dahulu sampai di bandara, rencananya pesawat yang membawa paman saya itu akan mendarat pukul 13.00 WIB.
Perjalanan yang biasa saya tempuh ke sana adalah dengan naik KRL di stasiun Citayam lalu turun di Stasiun Pasar Minggu. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan Bus Damri yang biasa mangkal di Terminal Pasar Minggu. Sampai di bandara, di terminal 2, jam satu siang kurang sedikit. Ternyata berdasarkan jadwal yang terpampang di layar pengumuman pendaratan, pesawat Saudi Airlines itu baru tiba di Indonesia pukul 13.54 WIB.
Dan baru pada jam setengah empat sore, saya benar-benar dapat melihat paman saya keluar dari pintu kedatangan. Setelah berbasa-basi sebentar dia bilang, “Besok kita ke PRJ, antar yah…”
Siap…!
Pekan Raya Jakarta
Perjalanan kemarin amat melelahkan menurut saya. Selain karena harus mampir di rumah teman paman saya di daerah Ciledug, kapasitas angkut yang berlebih sehingga kami harus berdesakan, juga perjalanan pulang ke tempat saya yang memakan waktu lama. Kini esoknya, di hari ahad ini, saya pun harus menemani paman saya yang ingin berjalan-jalan di Pekan Raya Jakarta (PRJ). Rencananya pula sehabis dari PRJ kami akan mengunjungi Masjid Kubah Emas. “Mumpung di Jakarta, ” kata bibi saya.
Oke deh…walaupun lelah dari kemarin belum juga kunjung hilang, saya menyanggupi untuk mengantar mereka. Dalam hati saya berkata “kepada keluarga siapa lagi saya akan berbakti setelah ibu saya meninggal?”
Perjalanan di mulai dari pintu tol Cieutereup lalu keluar di pintu tol Ancol-Mangga Dua. Tidak berapa lama kami pun sampai di arena PRJ. Setelah memarkirkan mobil, kami bergegas untuk memasuki tempat pameran. Tiket masuk per kepala sebesar Rp20.000,00 di hari libu. Anak umur 3 tahun ke atas diharuskan memiliki tiket pula.
Terus terang saja, saya termasuk orang yang tidak menyukai keramaian pasar atau mal. Selain karena bisa menaikkan syahwat belanja juga bisa meliarkan hasrat hedonisme manusia—dan untuk mengatasi ini saya cuma membawa uang tunai seratus ribu saja agar saya menyadari saat “ingin” sesuatu, uang saya hanya segitunya saja.
Semakin siang semakin banyak pula pengunjung yang datang. Dan tidak terasa saat saya berkunjung di stand daerah dan UKM, saya telah berpisah dari rombongan utama. Saya raba saku saya, hp saya masih ada ditempatnya. Tapi ada yang aneh, kok selama ini tidak ada aktivitas getar dari hp itu. Alamak, ternyata hp saya sudah mati. Lalu bagaimana saya harus mencari mereka di antara puluhan ribu orang yang berada di tempat itu.
Saya lakoni cara manual, berkeliling ke berbagai tempat utama pameran. Dari hall ke hall, dari stand ke stand, dari counter ke counter. Tidak ketemu…! Kaki saya sampai pegal-pegal. Istirahat deh di salah satu sudut counter penjual makanan ringan. Sambil melihat-lihat sekeliling, kali aja ada yang bisa meminjamkan charger atau hp—ingat loh saya tidak meminta pulsa kepada mereka.
“Pak, bapak punya charger enggak Pak? Saya mau menghubungi saudara saya di sini, tapi hp saya mati” tanya saya pada sekelompok orang penjaga stand yang saat itu lagi sepi.
“Chargernya ketinggalan di rumah,” jawab salah satu dari mereka. Saya pun meninggalkan tempat itu.
Saya kembali melihat seorang bapak tua yang sedang duduk-duduk dengan hp berada di pinggangnya.
“Pak bisa bantu saya enggak Pak? Saya mau kontak saudara saya di sini. Tapi baterai saya habis. Jadi saya mau pinjam hpnya bapak, nanti saya telponnya pakai kartu saya Pak,” pinta saya setengah memelas.
“Masnya pinjam saja charger di counter hp di sana, ” tunjuk dia pada sebuah stand merek hp ternama.
“Terimakasih Pak.” Dua kali saya di tolak. Kali ini episode acara televisi TOLONG benar-benar terjadi pada diri saya.
Saya pergi ke tempat yang ditunjuk oleh Bapak itu. Tapi saya lihat stand itu dipenuhi banyak orang, semua pelayannya sibuk, dan jelas saya tidak banyak berharap meminta pertolongan dari mereka.
Lalu saya kembali mencari orang yang dari gayanya bisa membantu saya keluar dari kesulitan. Dua orang yang sedang berbincang-bincang di depan toilet yang saya tanyai, menjawab dengan jawaban singkat, “saya tidak punya hp.” Dan orang terakhir—penjaga stand minuman—pun tidak bisa menolong saya.
Saat itulah saya merasakan menjadi orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan. Saat itulah saya merasa menjadi tokoh utama dari program variety show televisi. Saat itulah saya merasa menjadi orang yang kesendirian. Mengapa mereka tidak mau memberikan pertolongan yah? Apa karena muka saya muka bandit hingga menjadi parameter tersendiri layak atau tidaknya seseorang untuk ditolong? Saya merasakan sekali nada kecurigaan dari tatapan bapak yang menyuruh saya meminjam charger di counter hp dan juga dari dua pemuda yang sedang ngobrol di depan toilet. Wajarlah mereka curiga, ini Jakarta Bung! Di mana banyak kepalsuan dijajakan dan diobral ke mana-mana. Di saat kejujuran menjadi barang paling langka pada saat ini. Dan pada akhirnya saat itulah saya bertekad kalau saya dimintakan pertolongan dalam masalah ini Insya Allah akan saya bantu sekuat tenaga.
Tekad saya itu ternyata diberikan jalan oleh Allah untuk direalisasikan pembuktiannya. Senin pagi ini, ada kecelakaan di jalan antara Tanjung Barat dan Pasar Minggu. Pengendara sepeda motor menabrak motor yang berada di depannya. Yang menabrak jatuh dan ditabrak dari belakang oleh motor lain. Yang ditabrak malah tidak apa-apa bahkan langsung melanjutkan perjalanan lagi. Sedangkan dua orang ini luka-luka lecet di kaki, tangan, dan juga di dagu.
Saya sempatkan untuk menuntun salah satu motor mereka. “Bagaimana, ada yang luka parah enggak? tanya saya pada penabrak kedua yang tidak bisa menghindari penabrak pertama . “Dagu dan kaki ini masih keluar darah,” jawabnya. Benar, cairan berwarna merah membasahi tangannya yang mengusap-usap dagunya.
Si penabrak pertama menghampiri saya sambil berjalan tertatih-tatih dan wajah meringis kesakitan dan berkata: “Bapak punya pulsa banyak enggak? Saya mau menghubungi orang Jepang atasan saya, pulsa saya mau habis nih” pintanya. Jelas saya langsung memberikan hp saya padanya. Peristiwa hari Ahad kemarin benar-benar membekas pada sanubari saya. Berikan pertolongan…apalagi sekadar pulsa ini. Ada banyak yang dihubunginya, saya pun menunggu lama. Berkali-kali ia meminta izin untuk menghubungi yang lain. “Silakan pakai saja.”
Barulah setelah saya memastikan mereka tidak membutuhkan hp ini, saya pamit untuk melanjutkan perjalanan kembali, absen pagi sudah terasa memanggil-manggil di telinga. Selalu saja ada hikmah yang tersembunyi, kata teman satu seksi saya saat saya menceritakan hal ini padanya. Tentang sebuah pelajaran dan pembuktian realita atas sebuah tekad agar tidak menjadi omong kosong belaka.
Syukurnya Allah memberikan pelajaran atau tes ini segera, agar saya merasakan hikmah di balik semua itu. Agar saya selalu belajar untuk menjadikan tangan ini selalu di atas. Agar saya tidak menggunakan parameter layak tidaknya seseorang itu perlu ditolong hanya di lihat dari mukanya, muka bandit atau muka Kyai. Enggak enaklah dinilai seperti itu. Bisa jadi muka saya muka bandit tapi hati ini boo, hati Ebiet (halah…). Kawan, hari ini dan kemarin saya mendapat banyak pelajaran loh.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
16:16 02 Juli 2007


http://10.9.4.215/blog/dedaunan
http://dirantingcemara/blogspot.com
almanfaluthi@gmail.com
riza.almanfaluthi@pajak.go.id

26 June 2007

BIOLA TAK BERDAWAI

Biola Tak Berdawai
:Sebuah Roman
Seno Gumira Ajidarma & Sekar Ayu Asmara
Penerbit PT Andal Krida Nusantara (Akur)
Cet. II Maret 2004

Tanpa dawai, bagaimanakah biola bisa bersuara? Biola bagaikan tubuh, dan suara itulah jiwanya—tetapi di sebelah manakah dawai dalam tubuh manusia yang membuatnya bicara? Jiwa hanya bisa disuarakan lewat tubuh manusia, tetapi ketika tubuh manusia itu tidak mampu menjadi perantara yang mampu menjelmakan jiwa, tubuh itu bagaikan biola tak berdawai. (Prolog, hal 1)
Buku ini ditulis berdasarkan skenario dan film karya Sekar Ayu Asmara. Dengan cara pandang seorang anak tunadaksa (dengan banyak cacat yang diderita) bernama Dewa. Autistik, bisu, tubuh kecil yang tidak bisa berkembang, mata terbuka tapi tidak melihat, telinga yang bisa menangkap bunyi tapi tidak mendengar, jaringan otak yang rusak, leher yang selalu miring, kepala yang selalu tertunduk, wajah bagaikan anak genderuwo adalah gambaran dari anak itu.
Sebagai salah satu bayi yang tumbuh besar sampai umur delapan tahun—yang di luar perkiraan kebanyakan orang di panti asuhan tersebut, ia adalah belahan jiwa dari salah seorang pengasuhnya, Renjani. Renjani bersama Mbak Wid adalah pengurus panti asuhan yang bernama Rumah Asuh Ibu Sejati, terletak di daerah para pengrajin perak bernama Kotagede di pinggiran kota Yogyakarta. Tempat di mana mereka menampung bayi-bayi yang tidak dikehendaki, karena cacat ataupun karena hasil dari hubungan gelap.
Renjani bersama Dewa mengarungi pergiliran waktu dengan menyaksikan kedatangan para bayi tunadaksa yang cepat pula meninggalkan mereka karena kematian, meninggalkan mereka menuju ke pekuburan bayi. Begitu pula dengan Mbak Wid, seorang dokter kepala, yang di siang harinya mengenakan pakaian putih-putih, tapi di saat malam tiba, ia berubah menjadi perempuan berbaju hitam-hitam yang begitu percaya ramalan kartu Tarot dan menyepi di sebuah ruangan yang dipenuhi dengan seratus lilin. Selalu, Renjani menemani Mbak Wid dalam permainan kartu itu, tentu dengan Dewa yang tetap terdiam membisu, dengan leher yang selalu miring, dan kepala yang selalu tertunduk.
Sampai suatu ketika saat Dewa mendengar alunan biola dari sebuah CD, sebuah kekuatan mampu membuat kepalanya terangkat—hanya sepersekian detik, dan Renjani—ibunya yang mantan penari balet—melihat itu! Renjani menghambur memeluknya. “ Dewa, Dewa—Dewa suka ibu menari ya? Ah, Ibu sayang sekali sama kamu Dewa!”
Sepersekian detik itulah yang kemudian membawa Renjani dan Dewa melihat Ballet Ramayana yang dimainkan setiap bulan purnama di Candi Prambanan. Lalu berkenalan dengan pemuda yang lebih muda usia daripadanya. Bhisma, salah seorang pemain biola dari pertunjukan itu selalu memperhatikan Renjani saat pertunjukan berlangsung. Singkat cerita, Bhisma semakin akrab dengan Renjani, pun dengan Dewa yang ia sebut sebut sebagai biola tak berdawai.
Tapi keakraban dan benih cinta yang mulai tumbuh itu rusak saat Bhisma memaksa Renjani menerima dirinya karena itu berarti mengusik masa lalu Renjani yang gelap, yang menjadi satu-satunya alasan mengapa ia pindah dari Jakarta ke tempat sepi ini. Ia belum sanggup berdamai dengan masa lalunya. Masa lalu yang merusak kehormatannya sebagai seorang perempuan. Ia diperkosa oleh guru baletnya.
Jejak-jejak gelap itu menjelma menjadi segumpal daging yang Renjani secara ceroboh menggugurkannya. Lalu menjadi kanker yang membuatnya koma selama seminggu dan akhirnya berkumpul bersama bayi-bayi tunadaksa yang tidak sanggup bertahan hidup di dunia. Bhisma menyesal atas pemaksaannya itu.
Penyesalan yang hanya bisa membuatnya melakukan sebuah konser tunggal. Di kuburan Renjani. Di kuburan para tunadaksa itu. Memainkan resital gubahannya yang baru terselesaikan dan tak sempat tertunaikan untuk dimainkan di hadapan Renjani.
Tapi walaupun terlambat konser itu bagi Dewa adalah konser dari seribu biola, seribu harpa, seribu seruling, seribu piano, seribu timpani, seribu cello, seribu bas betot, seribu harmonica, seribu gitar listrik, dan seribu anggota paduan suara malaikat dari sorga. Membuat langit ini penuh dengan cahaya dan lapisan-lapisan emas berkilauan. Dan yang mampu membuat Bhisma tertegun, mampu membuat biola itu berhenti sejenak, mampu membuat Dewa berkata: “D..de….f….faa…shaa…shaa…aang…iii…buuu.”
Dewa sayang kamu Renjani.
Secara keseluruhan roman ini bercerita dengan sederhana sekali. Sekali lagi, sederhana sekali. Ada yang membuatnya beda dan menjadikan novel ini berciri khas unik yaitu penyelipan kisah-kisah pewayangan, kakawin Bharata-Yuddha beserta para tokoh-tokohnya, Drupadi, Pandawa, Kurawa, Bhisma, Sengkuni, Dorna, dan yang lainnya. Kisah-kisah yang terlupakan oleh saya. Namun sempat membangkitkan memori bahwa saya sempat membaca komiknya waktu masih SD dulu.
Filmnya meraih berbagai penghargaan internasional namun roman adaptasi dengan judul sama ini bagi saya biasa-biasa saja. Belum menggugah rasa kebahasaan saya walaupun ditulis oleh seorang yang bernama Seno Gumira Ajidarma. Penulis serba bisa Indonesia yang paling produktif—sebagaimana ditulis dalam kata pengantar buku itu—yang piawai sekali memainkan kata-kata dan sekali lagi menurut penulis kata pengantar tersebut mampu menangkap echo cinta dari film itu. Bagi saya Seno tidak sepiawai saat memainkan kata dan cinta tentunya dalam “Sepotong senja untuk Pacarku.” Karena ia terkungkung dalam sebuah skenario? Entah. Buku ini cukup dibaca saat waktu senggang saja.
Namun kavernya bagi saya mampu untuk “menutupi” kekurangan ini. Indah. Biola tak berdawai, kupu-kupu jingga, warna hitam yang dominan adalah sebuah citra tepat dari sebuah sampul yang menggambarkan isi buku ini. Sebuah asa akan asmara, yang hilang terampas oleh duka dan waktu.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
06.08 23 Juni 2007

PETAKA ASMARA

Sampai saat ini tugas yang diberikan kepadaku untuk menulis sebuah cerita pendek belum juga selesai. Entah kenapa, istilah cerpen menjadi momok menakutkan bagi saya. Ketakutan-ketakutan yang tidak pernah saya jumpai saat menulis nonfiksi terasa sekali menghantui. Entah ketidakdalaman cerita, entah ketidakkuatan karakter, entah kesalahan setting, entah takut dianggap jelek, entah dianggap tidak piawai dan entah-entah lainnya yang membuatku tidak bisa menulis cerpen.
Tapi ternyata saya kudu diterapi juga, bahwa saya sudah tidak menulis entah fiksi dan nonfiksi sudah hampir setengah bulan lamanya. Waktu yang membuatku khawatir saya tidak bisa menulis lagi. Benar-benar tidak ada gejolak dari dalam untuk bisa menggerakkan jari saya menuliskan sesuatu. Maka untuk menepis kekhawatiran itu saya menuliskan apa saja di blog ini.
Tentang saya yang penuh dengan kecemasan tidak bisa menulis lagi. Tentang saya yang takut saya kembali mutung di tengah jalan dan berhenti dari belajar menulis di FLP karena banyak tugas-tugas yang belum saya kerjakan. Tentang saya yang lagi sakit. Sakit hati. Maksudnya adalah hati saya yang lagi penuh dengan penyakit hati saat ini. Tentang saya yang lagi merindukan suasana. Tentang saya yang mengenang jalan-jalan kota Bogor yang sempat saya susuri kemarin dari Gadog Puncak. Hingga tentang saya yang mencoba mencari jati diri agar tidak kehilangan orientasi. Hidup ini mau dibawa kemana?
Sabtu dan Minggu kemarin memang benar-benar penuh dengan pertarungan antara kehidupan dunia dan akhirat. Antara orientasi mengejar dunia atau mengejar akhirat. Dan pada akhirnya saya memang kalah. Orientasi dunia begitu mendominasi. Hingga lupa ada kehidupan akhirat. Kelelahan mengatur waktu atau kemalasan yang timbul dari banyaknya waktu luang membuat saya berpikir, "oh enaknya kalau hidup tidak memikirkan umat".
Enak bisa mancing, bisa jalan-jalan, bisa piknik, bisa santai, bisa main game seharian, bisa tidur siang, bisa berkumpul dengan keluarga, dan bisa menikmati kesenangan duniawi lainnya. Pada akhirnya dari kenikmatan berangan-angan "seandainya aku" itu malah membuatku lupa akan banyak amanah. Walhasil saya benar-benar terlena. Saya banyak melanggar amanah yang saya pegang. So, saya beri nilai sabtu dan ahadku kemarin dengan nilai D, tidak lulus.
Biasanya kesadaran tentang penilaian jelek dari hari-hariku adalah bila pagi telah jelang. Saya merasa ada energi kebaruan yang membuatku bertekad untuk memperbaiki hari ini menjadi lebih baik dari kemarin. Saat shubuh tiba, bergegas ke masjid, sholat berjama'ah, berzikir, dan berdoa, membuat saya merasakan ada semangat baru. Semangat yang menghilangkan keburukan hari-hari kemarin. Semangat agar hari ini lebih baik. Semangat untuk membantu sesama. Semangat untuk menghapus keburukan-keburukan dengan kebaikan-kebaikan. Semangat agar saya tetap hidup. Hidup dengan membawa makna: "bermanfaat buat yang lain". Walaupun terkadang itu cuma bertahan sampai dhuhur menjelang. Tapi tak mengapa yang penting ada suatu upaya menuju perbaikan tersebut.
Alhamdulillah, sampai saya menulis paragraf ini, saya merasakan sebuah kepuasan tersendiri. ada energi positif mengalir dalam jiwa saya. Ini berarti terapi menulisku lumayan berhasil melawan kehampaan jiwa. Saya berharap energi itu tidak menjadi kecil lalu meredup tapi semakin membesar untuk menjadi bola salju yang membawa manfaat buat orang lain. Saya bisa menjadikan menulis adalah terapi terbaik bagi saya.
Dan saya yakin terapi ini pun baik bagi Anda. Tulislah apa yang Anda ingin tulis. Jangan takut untuk memulai. Walalupun ketakutan saya dalam menulis cerpen belumlah terobati tetapi dengan menulis apa saja bisa mengusir ketakutan-ketakutan yang lain. Jadikan menulis sebagai obat buat diri Anda. ceritakan semuanya. ceritakan semuanya. Jangan malu. Jangan takut. Sekarang juga. Tulis apa adanya. Biarkan jiwamu menilai tulisanmu sendiri. Bukan orang lain. Maka akan kau rasakan terapi menulis ini berguna untuk dirimu.


Petaka Asmara
Jika jiwa tersesat pada labirin kenangan
maka terkadang asmara-asmara masa lalu
timbul tenggelam dengan tangan yang menggapai-gapai
tolong aku tolong aku
jangan biarkan aku terjebak dalam waktu
mengenangmu selalu
bahkan mendengar namaku saja engkau tak sudi
karena itu adalah masa lalumu
tolong aku tolong aku
sampai kapan aku akan berteriak demikian
jika sekadar berita tentang aku
pun membuatmu mual
mual pada segalanya
mabuk pada kerontang jiwa
ah andai waktu tak pernah menemukan diriku
aku tak akan mungkin berteriak:
tolong aku tolong aku
sampai kapan????!!!!



Riza Almanfaluthi
13.00 18 Juni 2007.

06 June 2007

KAMAR

Matamu adalah telaga, dan aku tenggelam di dalamnya. Kalimat indah itu keluar dari mulut Ketua FLP Depok ketika bertugas sebagai tutor menggantikan tutor utama kami--Mas Denny yang sedang rihlah ke Padang.
Kalimat itu adalah deskripsi tentang keindahan sebuah mata. Dalam sastra sebuah deskripsi terkadang tidak perlu dengan menunjuk sesuatu dengan gamblang. Misalnya dengan kalimat "matamu cantik" tapi lebih indah pula bila dengan penggambaran metaforis.
Ya, Sabtu itu kami belajar untuk mendeskripsikan sesuatu. Pada makalah yang dibagikan itu Denny mengutip ismail Marahimin menulis bahwa deskripsi bisa dibedakan menjadi dua macam. Pertama, deskripsi ekspositoris yang merupakan deskripsi yang sangat logis, yang isinya merupakan daftar rincian, semuanya, atau yang menurut penulisnya hal yang penting-penting saja, yang disusun menurut sistem dan urutan-urutan logis dari obyek yang diamati.
Sedangkan deskripsi impresionistis adalah penggambaran yang didasarkan kuat lemahnya sebuah kesan penulis terhadap bagian obyek-obyek yang ingin digambarkannya. Kata kucinya ada pada kesan terkuat yang tertangkap.
Pada akhir pertemuan tanpa berpanjang kata, kami ditugaskan untuk mendeskripsikan kamar masing-masing. Dan inilah deskripsi kamar saya. Selamat menikmati.

KAMAR


Aku masih saja terdiam di sudut. Di atas ranjang memandang sekeliling kamar yang sudah sekian tahun tidak berubah. Aksesorisnya belaka yang berubah seiring dengan mandala waktu.
Kalau engkau bayangkan sebuah kamar yang luas, dengan keharmonisan warna cat menyiratkan sebuah keseimbangan alam, ranjang yang besar, lemari-lemari tinggi, meja rias dengan kekokohan pohon jati, cermin yang bening, keramik Italia kualitas terbaik yang mempercantik lantai, tirai lebar berbordir penghalang sinaran mentari pagi dan hembusan angin yang masuk dari jendela, kamar mandi yang tak kalah indah, dan luasnya setengah darinya, maka bayangan itu cuma ada di sinetron-sinetron Indonesia. Jangan engkau bayangkan itu.
Kamar si pemilik rumah ini hanya cukup untuk memuat dua meja pingpong. Bercat hijau muda. Dengan satu jendela berkaca nako—tanpa tirai—yang mengemis-ngemis cahaya. Maklum saja kamar ini berada di bagian belakang, bersebelahan dengan dapur. Suara berisik pun dominan sekali di setiap pagi.
Karena tiada kecukupan dengan cahaya, maka lampu hemat energi 25 watt menjadi sumber penerangan yang ampuh untuk mengusir kegelapan selamanya, terkecuali kalau ia sudah kehilangan daya. Tapi cukup lama biasanya, berkisar dua warsa.
Lantainya hanya ditutup dengan keramik kelas dua. Hijau muda juga. Baru terlihat mengilat dan harumnya memenuhi ruangan jika dipel dengan cairan khusus pembersih lantai.
Pintu kamarnya cukup kokoh. Terbuat dari kayu yang dipelitur seadanya. Maunya sih nyeni, tapi apa lacur tukang bangunan yang memasangnya bukan tukang kayu ahli, jadinya masih terlihat kasar. Dan pintu ini pun harus didorong dengan kuat agar bisa menutup rapat.
Lemarinya cukup tinggi juga. Nah, ini baru bikinan tukang kayu asli. Kayunya dibuat halus dan dipelitur mengilat sekali. Sayang ada yang merusak keindahannya. Ada selot terpasang di bagian luar. Tentunya untuk menutup pintu lemari yang tidak bisa terkunci dari dalam.
Isinya? Ah, engkau pasti tahu apa yang ada di dalamnya. Sekadar tumpukan penutup aurat sebagai pembeda keberadaban manusia zaman batu dengan masa kini. Dan sekadar lembaran-lembaran kertas penanda keberadaan seseorang di dunia ini.
Ho...ho...ho...ada pula lembaran-lembaran lain yang lebih kecil ukurannya, bergambar, dan bernomor seri tertumpuk rapi. Biasanya setiap pagi si pemilik rumah ini membagi-bagikan itu kepada para penghuni rumah yang lain. Yang biasa kudengar mengiringi pembagian itu adalah celotehan dari si kecil: ”Mi, kok cuma seribu?”
Di sebelah lemari itu ada meja kecil setinggi lutut orang dewasa. Cukup untuk menaruh sebuah tape recorder. Lebih tepatnya lagi meja ini berguna untuk menaruh apa saja. Kaset-kaset yang bertumpuk tidak teratur, kunci sepeda motor, sobekan-sobekan kertas, brosur-brosur penawaran kredit bank, buku diary, majalah, makalah, pulpen, dan banyak lagi lainnya. Sepertinya meja ini tak layak muat untuk menerima segalanya. Yang pasti: berantakan sekali.
Tidak hanya itu. Di sisi lain dari lemari ada juga rak kecil berwarna biru laut terbuat dari plastik. Niatnya mungkin untuk menaruh peralatan sembahyang, tapi itu cuma di bagian atasnya.Lagi-lagi yang tampak adalah tumpukan kertas, buku dan majalah. Namun terlihat pula tiga buah tas kerja di sana.
Di sudut kamar yang lain teronggok meja rias dengan begitu banyak kosmetik di atasnya. Ada cermin besar di sana. Cukup untuk melihat setengah tubuh manusia. Tentu hanya fisik yang terlihat. Tidak ada isi hati yang tampak. Tapi memang jujur sekali sang cermin ini memantulkan bayangan.
Kulit yang menghitam, rambut yang memutih, kulit yang mengeriput, mata yang menyayu tanpa cahaya, tubuh yang membongkok karena tulang yang merapuh, senyum yang enggan bangkit dari sudut bibir, gigi yang tinggal satu dua ditampilkan apa adanya pula. Tidak dilebihkan atau dikurangkan sedikitpun. Jujur, jujur sekali. Terkecuali sumber bayangan itu memakai topeng. Pun saat ia benar-benar memakai topeng pada galibnya itu adalah sebuah bentuk kejujuran pula. Sebuah pantulan, sebuah penegasan: Ia memakai topeng!
Lalu persis di antara rak plastik dan meja rias itu ada sebuah pintu lagi. Pintu kamar mandi. Yup, kamar ini mempunyai kamar mandi di dalamnya. Kecil dan tidak luas. Sekilas aku melihat di sana ada kran, ember, gayung dan tentunya...ah, aku geli menceritakannya kepada engkau. Lain kali aku membisikkan segalanya padamu, tidak saat ini, dan hanya untuk kamu saja, tidak untuk yang lain.
Kini, saatnya membicarakan tempat di mana aku sedang memandang sekeliling kamar ini. Ranjang ini. Aku berdiri di tempat di mana biasanya sepasang pemilik rumah ini membaringkan kepalanya di ranjang ini. Terlihat sekali bayanganku ada di cermin meja rias di seberang sana.
Ranjang ini empuk sekali. Saking empuknya ketika seseorang menggeser tubuhnya terasa sekali goyangannya. Ini berarti, ranjang itu cuma spring bed murahan. Kalau yang benar-benar mewah, asli, dan mahal maka jalinan kawat spiral yang menyusunnya tidak konvensional tetapi dirancang khusus dengan per sejajar yang terpisah, tidak saling terkait, terbungkus kantong kain satu per satu dan tidak dikaitkan dengan kawat helical yang dapat mengurangi gunjangan. Ini jelas akan menambah kenyamanan bertidur. Saat orang bisa nyaman tidur maka sehatlah ia.
Engkau pasti bertanya, kenapa aku bisa tahu sejauh itu? Ah, aku ini bisa melihat apa saja walaupun mereka menyangka aku tidak bisa melihat. Aku ini bisa mendengar apa saja walaupun mereka menyangka aku tidak bisa mendengar. Aku ini bisa berbicara apa saja walaupun mereka menyangka aku diam membisu di setiap waktu. Aku ini bisa merasakan apa saja walaupun mereka tidak pernah menyangka aku dapat merasakan segalanya. Bahkan aku bisa kejam membunuh. Faktanya di setiap lenganku ada bercak-bercak—tidak cukup setetes atau sepercik—darah dari musuh-musuh mereka yang bergerilya di setiap malam.
Ohya, ada selimut di atas ranjang itu. Selimut yang biasa tak terpakai oleh mereka berdua—karena kamar tak berpendingin ini sudah cukup membuat mereka kepanasan-- Hanya pada saat-saat tertentu saja selimut itu berfungsi. Tak perlu kuceritakan pula kepada engkau tentang semua yang aku lihat, aku dengar, dan aku rasakan. Karena ini bukan cerita stensilan.
“Brak….!” suara pintu terbuka memecahkan perenunganku pada deskripsi kamar ini. Aku melirik. Sosok perempuan terlihat memasuki kamar. Memandang sebentar ke sekeliling kamar. Melangkah ke ranjang. Membereskan bantal dan selimut. Lalu memungutku.
Aku sadar kini waktunya untuk bertugas. Aku kencangkan otot-ototku. Energi kusalurkan pada setiap lenganku yang panjang, ramping, dan lurus. Persis saat ia menjerembabkan aku di permukaan kasur. Membersihkan segala macam debu dan tungau yang tidak bisa terlihat oleh mata biasa. Berkali-kali aku dipukulkan ke kasur dan menyapu bersih segala macam benda-benda kecil di atasnya. Aku sudah terbiasa. Paling cuma belasan kali.
Tidak berhenti sampai di situ. Ada tugas lain. Kini aku melayang-layang di seantero kamar. Mencari makhluk-makhluk kecil bersayap dan penghisap darah. Kamar yang lembab ini memangnya menjadi habitat terbaik untuk tumbuh kembang mereka. Perempuan itu melihat seekor terbang menghindari terjanganku yang digerakkan oleh tangan perempuan ini. ”Wusss...!” Masih menerpa angin. Dan aku masih waspada dengan tetap menyalurkan tenaga ke sekujur lenganku.
”Tap...” Aku merasakan momentum luar biasa. Saat lenganku menangkap dan menggencetnya. Ada cairan merah keluar dari tubuh nyamuk itu. Mungkin ia sempat menggigit penghuni rumah ini. Tidak lama aku dibiarkan menggeletak di atas meja rias. Kudengar perempuan itu berkata kepada lelaki yang baru saja memasuki kamar, ”Nanti belikan satu lagi sapu lidi untuk di kamar depan. Yang ini biar di sini saja.” Tiba-tiba kamar itu gelap.
Tapi jangan dikira aku ini buta karena aku bisa melihat apa saja walaupun mereka menyangka aku tidak bisa melihat. Jangan dikira aku ini tuli karena aku bisa mendengar apa saja walaupun mereka menyangka aku tidak bisa mendengar. Jangan dikira aku ini bisu karena aku bisa berbicara apa saja walaupun mereka menyangka aku diam membisu di setiap waktu. Jangan dikira pula aku ini tidak perasa karena aku ini bisa merasakan apa saja walaupun mereka tidak pernah menyangka aku dapat merasakan segalanya.
Kegelapan ini tidak akan lama.



Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
16:14 05 Juni 2006

28 May 2007

MENGAPA MEREKA MEMBENCI SAYA?

Seseorang telah mengirimkan sebuah surat melalui Private Message saya di sebuah forum diskusi. Seorang sahabat saya. Sebuah surat yang panjang. Bercerita tentang alasan sosok-sosok salafy membenci saya. Harapannya saya mengerti tentang mereka. It's Oke.

Dengan seizinnya saya bisa mempublikasikan surat menyurat kami tentang hal ini. Berikut di bawah: yang pertama adalah surat sahabat saya tersebut. Lalu setelahnya adalah balasan dari saya. Selamat Membaca korespondensi indah ini.
Ohya , namanya yang saya tuliskan adalah bukan nama yang sebenarnya.


-- Previous Private Message --
Sent by : UmmuRonggo
Sent : 25 May 2007 at 09:02


Setiap manusia itu berbeda. Setiap manusia mempunyai FOR (Frame of References), yang membingkai setiap dasar pemikiran maupun bertindaknya. Dosen Tehnik Komunikasiku mengistilahkan dengan kaca mata kuda. Artinya cara seseorang memandang , berfikir, menanggapi ataupun merasakan suatu hal/permasalahan adalah sangat bergantung pada kaca matanya. Kaca mata ini dilatarbelakangi oleh kejadian –kejadian di masa lalu, bagaimana lingkungan , pola didik keluarga, pendidikan maupun pengalaman pengalaman yang dirasakan. Nah, karena itu dua orang kembarpun akan mempunyai FOR yang berbeda.
Semalam tarawihku yang tak kusukai , menurutku. Dari semenjak sholat Isya, dan kutau Bapak tua itu yang menjadi imamnya, aku sudah tak bergairah.

Beda dengan imam favoritku yang kemarin. Kemarin aku begitu khusu’ menikmati tarawihku. Dibawah langit yang cerah, dan lantunan ayat-ayat hapalanku yang hampir hilang , kunikmati dan berusaha kukumpulkan kembali hapalanku yang hampir hilang. Iya, surat surat An Nabaa, Al Insiqooq, dan surat2 awal di juz 30 , membuatku menikmati sholatku ini. Walau menurut jamaah lain, Imamku ini yang terlama tarawihnya karena pilihan ayat2nya yang tak biasa.

Tapi imam tarawihku semalam.Aku sudah hapal .Dia (beliau, maksudku, bagaimanapun aku harus tetap menghormatinya) akan memulai setiap Takbiratul ihramnya , dengan membacakan; Ussoli sunnatan tarawih… ,sebelum witir, dengan doa ; nawaitu shaumagoddin…, witir 3 rakaat dengan dua salam , dan di rakaat terakhir ditambah qunut. Terpikir olehku sejak solat Isyaku, untuk pulang dan tarawih di rumah. Tapi kuurungkan, karena kunci rumah dipegang suamiku yang sholat di jamaah laki laki.

Memang banyak sekali perbedaan perbedaan di sekitar kita. Walau mungkin perbedaan perbedaan itu belumlah menjauhkan diriku dari mesjid.Biar bagaimanapun aku (-beserta suami juga keturunanku) ingin termasuk dalam golongan pemuda yang termasuk dalam tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah disaat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (gol.pemuda yang hatinya tertambat di mesjid). Walau terkadang ada aktifitas2 di mesjid yang bertentangan dengan prinsip ku seperti imam diatas (salaman setelah sholat, peringatan hari hari besar islam, seperti Nuzulul Qur’an, Isro Mi’raj dll )

Membaca AL IKHWAN=AHLUL BID’AH=OSAMA? dan Siapa Teroris? Siapa Khawarij? (ini bukan resensi) dari mas dedaunan ; membuatku sedikit memahami latarbelakang atau FOR dari penulis. Ataupula membaca tema kontroversial di forum diskusi DSH , membuat saya mengerti dan maklum atas debat yang tidak berkesudahan. Dan menjadikan diriku untuk tidak turut dalam ajang tersebut. Biar bagaimanapun masing2 pihak punya prinsip2 keislaman yang berbeda yang melatarbelakangi pendapat2 mereka.
Aku jebolan –he he kaya kuliah aja—suatu jamaah yang keras –yang terlempar keluar karena memilih prinsip untuk menikah dengan orang diluar jamaah,... aku tidak menyesalinya, ini kuanggap salah satu jalan untuk mencari firqotun najiyahnya (gol yang selamat). Walau terkadang teman temanku di jamaah berusaha membujukku kembali,...

Mencermati PKS dan gerak dakwahnya, terus terang aku respek terhadap orang orangnya dibanding partai partai lain... kuanggap lebih bersih dan bisa dipercaya,...
tapi untuk terjun dan aktif di sana , aku tak melihat jalan partai sebagai jalan yang ditunjukkan Sang Teladan –walau kusadari ada perbedaan mengenai sarana dakwah itu harus sesuai tuntunan/sunnah atau boleh mengikuti perkembangan jaman-- , dan sedikit risih melihat sedikit toleransi2 agama yang dilakukan petinggi 2 partai.
Melihat ulah oknum yang mengganggu mas dedaunan dengan kata2 (kotor/kejamnya,...?)
Aku memang tidak respek terhadap oknum ini,...
Tapi menurut pendapatku,...sebagaimana pengantar diatas ...

Ada segolongan manusia yang sedang mencari jamaah, ada yang sudah berada di suatu jamaah atau ada pula yang tidak memilih satu pun (seperti aku, yang berusaha mencari kebaikan dari semua jamaah) ...
Terkadang tidak suka /risih melihat kefanatikan yang ditunjukkan seseorang terhadap jamaahnya di suatu forum,..
Melihat tulisan tulisan mas dedaunan, aku sedikit menarik kesimpulan bahwa oknum itu tidak suka melihat tulisan tulisan atau kefanatikan yang ditunjukkan oleh tulisan tulisan mas ..
Aku tidak berusaha memberi nasihat : jangan pakai simbol simbol ataupun kefanatikan terhadap partai atau golongan di forum umum... (atau aku salah, DSh forumnya PKS yaa)..
Karena aku sadar , itu adalah sebagian dakwah mereka, karena itu juga curahan atas kesenangan/semangat hidup mereka.
Cobalah sedikit memahami ataupun toleran terhadap perasaan orang lain,.. sebagaimana mungkin sebagian kita kurang respek kalau seseorang terlalu bersemangat menunjukan kesalafyannya...
Maaf kalau pendapat saya salah...
Allohua’lam bishshowab.


Inilah balasan surat saya:

Assalaamu’alaikum wr.wb.
Ba’da tahmid dan salam.
Semoga Allah meridhoi kita semua dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya. Sudah lama kita tidak bersilaturahim.
Terimakasih pula atas nasehat yang telah diberikan. Semoga Allah memberikan keberkahan terhadap Ummu Faiz.
Membaca tulisan Anda Ummu Faiz membuat saya berfikir, bahwa masalah-masalah yang Anda sebutkan di awal surat tersebut yaitu tentang perbedaan di pelaksanaan sholat tarawih lagi-lagi berujung pada perbedaan furu yang tidak seharusnya menyebabkan orang menjadi berpecah belah. Saya setuju dengan Anda.
Dan saya menganggap bahwa semua yang dilakukan oleh imam tersebut dan tentunya berbeda dengan yang dipahami oleh Ummu Faiz adalah bagi saya sesuatu yang biasa-biasa saja. Lagi-lagi ini ditentukan oleh FOR seperti yang Ummu Faiz sebutkan di paragraf pertama. Juga untuk masalah salaman setelah sholat dan PHBI, bagi saya yang pertama adalah masalah furu yang sudah sejak lama menjadi perbedaan bila kita merujuk lebih jauh kebelakang, ternyata para ulama terdahulu pun punya komentar tentang salaman setelah shalat.
Sedangkan untuk PHBI jika kita berpendapat bahwa itu tidak suatu keharusan maka bukanlah sebuah kebid’ahan (tolong untuk tidak dibahas lagi), dan hanya merupakan sebuah acara seremonial sebagai metode pengembangan dakwah dan ajang taushiyah agar masyarakat bisa menerima kebenaran.
Tetapi saya sangat menghargai sebuah prinsip yang Anda pegang wahai Ummu Faiz, untuk tidak turut dalam ajang tersebut. Sungguh, sebuah rumah akan dibangun di surga bagi orang yang bisa menghindari jidal baik ia benar ataupun salah.
Juga pada respek Anda pada gerak dakwah sebuah jama’ah yang bernama PKS. Semoga ini menjadi titik awal bagi kita untuk senantiasa merenda nilai-nilai ukhuwah itu. Dan tak perlu risih dengan semua aktivitas para petinggi partai itu karena semuanya telah melalui jalan syura. Lagi-lagi perbedaan pandangan dan tentunya FOR melandasi semua itu. Yang penting bagi kami selama itu tidak keluar dari koridor Alqur’an dan Assunnah maka hukumnya mubah.
Yang saya tidak di mengerti adalah kefanatikan yang seperti apa yang saya tulis? Bagi orang lain yang tidak mengikuti pergerakan (jama’ah) tulisan-tulisan saya adalah tulisan-tulisan yang biasa- biasa saja. Bahkan bagi orang yang mengikuti pergerakan (jama’ah) sekalipun seperti dari HTI, MMI, Jama’ah Tabligh, NU, dan Muhammadiyah pun memandang hal yang sama. Yaitu tulisan saya biasa-biasa saja.
Dan saya cuma berkesimpulan—dan ini menurut pandangan saya—yang menganggap saya fanatik adalah mereka-mereka yang sangat membenci jalan dakwah yang mulia ini. Maka yang keluar dari—maaf—mulut-mulutnya adalah celaan serta makian saja. Itu biasa saja bagi saya. Maka dari itu saya tidak menanggapinya. Apalagi di sana di DSHNet adalah habitat alami saya bahkan banyak ikhwah yang lainnya. (Sekaligus menyatakan memang betul bahwa DSHNet itu bukan forum umum, DSHNet pun adalah sama seperti situs-situs pembawa misi dakwah lainnya yang dibuat oleh saudara-saudara salafy lainnya di intranet seperti Al-Ilmu, Al-Atsary, dan sebagainya.)
Bagi saya tidak masalah saat menampilkan sebuah kefanatikan—memakai istilah yang Anda sebut tadi—asal tidak ada sebuah upaya ketersinggungan dari pihak lain. Dan itu yang saya jaga. Bahkan saya respek terhadap mereka yang menonjolkan ke-HTI-annya, ke-JT-annya, pun kepada sauadara-saudara salafy yang menonjolkan kesalafiannya, asalkan tetap pada koridor yang dibenarkan.
Tetapi hal lain pada banyak kasus faktanya adalah bila kefanatikan dari seseorang yang menunjukkan kesalafiannya. Lagi-lagi itu tidak masalah bagi saya bila menonjolkannya di situsnya sendiri dan tetap menjaga etika seorang muslim. Namun yang terjadi pada tataran realitanya adalah sebuah upaya pembenaran diri sendiri dan penyalahan pada diri orang lain serta tidak menjaga adab berbeda pendapat. Itu masalahnya saudaraku.
Dan tentang upaya memahami mereka, bersikap toleran terhadap mereka sudah sering dilakukan oleh begitu banyak ikhwah di DSH ini. Sejak DSH berdiri di tahun 2003 hingga pada medio Oktober 2006. Sudah lama celaan, makian, hinaan diterima dengan lapang dada. Begitu banyak mudharat yang timbul di sana. Di forum dakwah itu. Dari adanya ketersinggungan kecil hingga retaknya ukhuwah. Maka dengan sebuah kesadaran bahwa menjaga ukhuwah itu hukumnya wajib, maka ba’da lebaran 2006 kemarin berdasarkan hasil syura terbentuklah sebuah forum moderasi untuk meng-cut semua postingan yang berbau busuk, sangit dan anyir yang bisa menodai sebuah kain indah pada agama yang hak ini yang bernama ukhuwah.
Dan alhamdulillah, Allah telah memberikan jalannya. Ukhuwah itu senantiasa terjaga erat di forum keluarga. Di forum dakwah pun demikian Insya Allah. Inilah miliu keberkahan yang Allah berikan kepada para pengunjung DSH agar senantiasa mendapatkan ilmu sekaligus ukhuwah. Semoga kami senantiasa ber-iltizam pada upaya kami ini.
Demikianlah saudaraku apa yang bisa saya sampaikan pada Anda Ummu Faiz. Terimakasih telah menganggap saya sebagai saudara Anda—karena bagi saya bila seseorang telah menasehati saya dengan penuh hikmah itulah sebenar-benarnya saudara. Yang senantiasa menasehati saudaranya dalam kesabaran dan kebenaran. Semoga Allah senantiasa memberikan kemuliaan pada diri Anda dan keluarga Anda di dunia dan akhirat. Semoga senantiasa diberikan rizki yang banyak, halal, dan berkah. Semoga Anda pun diberikan pahala kebaikan yang amat banyak dan luas seluas bumi dan langit-Nya. Semoga Allah mengumpulkan kita di surga-Nya. Kabulkanlah ya Allah.
Maafkan bila ada yang salah-salah kata. Tentu karena: ”siapalah saya ini?” Cuma manusia biasa. Kebenaran datangnya dari Allah. Billahittaufik wal hidayah.
Wassalaamu’alaikum wr.wb.



Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
10:24 25 Mei 2007

NB:
1. Bolehkah saya menampilkan surat Anda dan balasan saya ini di blog saya. Tentunya dengan menyamarkan nama Anda. Karena saya berpikir ini sebuah pendokumentasian yang amat berharga. Sebagaimana surat-menyurat antara Soekarno (Tokoh Nasionalis) dan A Hassan (Tokoh Persis) yang terekam sejarah dengan baik.
2. Kayaknya setting pengantar(pembukaan surat) Anda sudah lama sekali: di era ramadhan dulu. Atau karena sudah lama ditulis dan uneg-uneg ini baru dikirim saya sekarang?  BTW, terimakasih banyak.


***

16 May 2007

BELAJAR ILMU KEBAL

BELAJAR ILMU KEBAL
http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Ada syarat-syarat tertentu yang harus dilakukan untuk bisa memiliki ilmu-ilmu kebal. Ilmu yang membuat badan atau tubuh kita utuh tanpa kurang suatu apapun saat ditusuk, diiris, dibacok senjata tajam. Atau saat dibakar, berjalan di atas pecahan beling dan bara api.

Syaratnya antara lain bertapa di tempat sunyi dan angker, membawa menyan dan sesaji, melakukan wirid-wirid tertentu ataupun mantra-mantra nenek moyang. Puasa mutih selama empat puluh hari empat puluh malam. Atau sama sekali tidak makan ataupun minum. Bahkan yang paling ekstrim adalah dengan melakukan hal-hal yang aneh yaitu makan daging mayat ataupun menyetubuhinya sampai mencapai bilangan tertentu. Biasanya kalau sudah 99 banyaknya, untuk mencari yang ke-100 susah banget, alih-alih berhasil malah gagal. (sinetron misteri kalee...)

Yang demikian ini hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak syarat-syarat yang diminta oleh setan. Ujung-ujungnya adalah penghambaan manusia pada dirinya. Tidak kurang bahkan ingin lebih. Tumbal akidah itu sudah pasti menjadi taruhannya. Menjual dengan murah kehidupan akhirat dengan kefanaan dunia. Murah, murah sekali.
Tapi banyak sekali loh yang mau. Iklan-iklan yang mengajak orang pada jalan pintas ini banyak bertebaran di koran-koran. Mulai dari yang benar-benar mengaku sebagai dukun dengan wajah angker, rambut terurai panjang sebahu, dan kumis serta jenggot yang menjuntai sampai pada tampilan yang bagaikan sosok-sosok walisongo dan bergelar kyai ataupun ustadz.

Apalagi diiming-imingi keberhasilan 100% dan jaminan uang kembali. Dan satu lagi yang membedakannya dengan dukun-dukun kampung berbangklon, bergelang bahar, berkalung tengkorak tergantung di leher, untuk mereka yang mau ilmu kebal ini, tidak perlu melakoni syarat-syarat di atas. Gampang. Tinggal menyerahkan mahar dengan angka tertentu yang telah disepakati maka ilmu pun bisa langsung ditransfer saat itu. Real Time Systems bo...Murah, murah sekali. Laris manis tanjung kimpul. Duh...

Tapi bagi yang berpikiran rasional, tidak ada ilmu kebal yang demikian. Yang ada adalah bagaimana menciptakan alat untuk bisa melindungi tubuh dari terjangan pedang, panah, bahkan peluru tajam. Nabi Daud AS sudah memulai sejak dulu kala dengan menciptakan baju baja. Dan di abad pertengahan perlindungan itu menutupi seluruh tubuh mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Karena tidak efektif dan efisien, kini baju itu cuma tinggal jadi barang rongsokan ataupun jadi barang tontonan di museum-museum orang barat sono. Paling hebat cuma jadi figuran film kartun di kastil-kastil tua.

Sekarang karena sudah dikuasai ilmunya, banyak sekali ragam baju kebal seperti ini. Kesatuan pemadam kebakaran yang paling moderen dan para astronot sudah memakai baju antiapi dan antipanas ini. Bahkan para ilusionis dan penyuka rasa sakit sudah memakainya dalam setiap pertunjukannya. Tidak hanya untuk menahan api, tapi untuk menahan sambaran setrum jutaan volt juga halilintar. Gundala Putera Petir—superhero made in Indonesia rekaan masa lalu—mungkin kalah aksi dengan mereka.

Adalagi rompi antipeluru yang merupakan baju berupa rompi terbuat dari kain dilengkapi bahan penahan kejut (kevlar) di dalamnya dan berfungsi sebagai penahan bacokan benda tajam, pecahan granat, tekanan/kejut dari pistol dan senjata laras panjang [1]. Rompi ini tidak hanya dipakai oleh prajurit Amerika Serikat untuk menjajah dunia, tapi juga oleh kesatuan-kesatuan tempur di setiap negara. Juga para penjual jasa keamanan swasta sekelas Blackwater Security Consulting, Vinnel, Dyncorp hingga yang cuma sekelas pengamanan uang Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

Tidak hanya dari kevlar, dengan teknologi yang semakin canggih, kini sudah dilakukan penelitian untuk mengganti kevlar dengan benang sutra laba-laba. Karena benang ini merupakan suatu jaringan serat yang sangat ringan dan kekuatan serta kelenturannya jauh melebihi Kevlar—serat sintesis terkuat yang ada saat ini buatan perusahaan DuPont. Kekuatan benang sutra ini bahkan mampu menahan peluru yang ditembakkan tanpa menyakiti orang yang memakainya sebagai baju anti peluru [2]. Tapi jelas ini mahal. Mahal, mahal sekali, duh...

Inilah usaha manusia untuk melindungi dirinya agar senantiasa selamat. Yang pertama dengan upaya yang murah tapi haram dengan menggadaikan hartanya yang paling mahal, yaitu aqidah, hingga menempuh cara yang rasional tapi berbiaya tinggi. Karena saking mahalnya, satu paket proyek pertahanan keamanan bisa untuk membangun dan merehabilitasi ribuan sekolah. Otomatis kalau yang ini jadi target utama, amanah Undang-undang Sisdiknas tentang biaya untuk pendidikan sebesar 20% dari APBN tidak akan mungkin tercapai dengan segera.

Ya, semua di atas adalah untuk perlindungan fisik semata. Tidak menyentuh psikis manusia yang sebetulnya perlu bahkan wajib untuk dilindungi. Karena bila psikis manusia tidak dilindungi dari pengalaman buruk seperti penghinaan, perlakuan buruk, cemoohan, ketersinggungan, kegagalan dan teman-temannya itu, maka pengalaman buruk itu akan menjadi sampah yang mengotori pikiran. Semakin sering kita menyimpan memori buruk di otak, semakin negatif sikap dan perilaku kita [3]. Pikiran kotor hasilnya stres, setelah stres datanglah stroke. Setelah stroke? You know-lah...
Bagaimana cara menyingkirkannya? Kita kudu membuat armor. Dan ini berarti kita harus belajar ilmu kebal yang satu ini. Tapi tunggu dulu. Latar belakangnya bagaimana nih kok bisa pembahasannya sampai ke sini.

Yup, beberapa hari yang lalu, dalam sebuah email pribadi saya, muncul sebutan-sebutan seperti ini: eh p*c*n murahan....dasar cemen..... sok hebad...l*mp d*ck...banci im yawr worst nite mare ever..... i see u melt in hell. (Tanpa saya kurangi sedikitpun bahkan titik-titiknya, saya cuma mengganti huruf vokal pada kata-kata tertentu dengan karakter star)

Waow, saya cuma mengerti 7 kata di awal. Tapi itu pun setelah saya bertanya apa arti p*c*n pada seorang teman. Kalimat yang memakai bahasa Inggris itu pun saya raba-raba artinya. Mungkin artinya: belok kiri jalan terus atau semacam: sesama kere dilarang saling mendahului (halah...).

Seorang teman bahkan sampai berkata: ”kalau saya yang dihina seperti itu, saya paling nangis darah.” Saya? Saya pantang untuk menangis darah sampai kapan pun, tapi nangis mewek bisa jadi. 

Bagaimana supaya kita bisa kebal dari serangan ”mematikan” seperti ini. Ayuk kita sama-sama belajar. Jangan pernah berbaik sangka dulu pada saya bahwa saya paling ahli ngadepin kayak ginian. Yang asyiknya dari ilmu kebal ini dan yang paling membedakannya dari ilmu-ilmu kebal di atas adalah, semakin kita serang balik semakin kalahlah kita. Rontok terperdaya. Lemah letih lesu lunglai. Bahkan para prajurit setan jadi ber-standing ovation persis para tamu istimewa nonton penganugerahan piala Citra.

Ilmu ini ada tiga jurus. Setiap jurus harus diresapi maknanya agar bersenyawa dengan diri. Ketika sudah menyatu maka akan terbentuklah unsur kebaikan. Tinggal menunggu reaksi kimiawinya saja. Berupa pahala yang akan memberatkan amal timbangan kita kelak. Catettttt....

Jurus pertama:
Selalu berusaha mengingat kebaikan orang dan melupakan keburukannya. Saat orang lain menyakiti kita, carilah seribu satu alasan agar kita tidak benci. Ingatlah selalu kebaikannya. Jangan sampai kita mengabaikan seribu kebaikan orang, hanya karena satu keburukan yang boleh jadi tidak sengaja ia lakukan.
Sudah dicatat, dibaca, direnungkan? Mari melangkah ke jurus selanjutnya.

Jurus kedua:
Segera lupakan semua perlakuan buruk orang lain. Ibaratnya, kalau tinta mengotori muka, maka tindakan yang bijak adalah membersihkannya, bukan membiarkannya, atau menunjukkannya pada yg lain. Demikian pula saat orang berlaku buruk pada kita, menghina misalnya, alangkah bijak bila kita segera menghapusnya, bukan memendamnya, membesar-besarkannya, atau menunjukkannya pada banyak orang.
Semoga upaya belajar saya ini bukan untuk menunjukkan kepada orang lain tentang kemarahan seseorang. Oke, kita lanjutkan. Tunggu dulu, sepertinya kuda-kuda Anda kurang kokoh. Perlu kekokohan kuda-kuda agar jurus ini ampuh dan punya kekuatan.

Jurus ketiga:
Mohonlah kepada Allah SWT agar diberi hati yang lapang dan pikiran yang jernih. Ada doa dalam Alquran yang bisa kita panjatkan,"Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku; dan mudahkanlah urusanku; dan lepaskanlah kekakuan lidahku; agar mereka mengerti perkataanku." (QS Thaahaa [20]:25-28).
Selesai sudah.

***
”Cucuku, sepertinya ilmu kebal yang kakek miliki selama ini, sudah kakek turunkan semuanya kepadamu. Kini saatnya untuk mengabdikan seluruh ilmumu bagi kawulo alit. Memberantas kejahatan. Menegakkan keadilan agar masyarakat sejahtera. Satu pesan kakek pergilah ke negeri Madangkara, temuilah Prabu Brama Kumbara, sesungguhnya ia adalah ayahmu.”

***

Kayaknya pesan sang kakek seperti dalam sandiwara radio atau film silat Indonesia jadul ini sama dengan pesan saya untuk mengakhiri semuanya. Kiranya harapan saya dan Anda tentunya adalah sama dengan harapan seorang blogger (chi) yang membaca dan mempelajari ilmu kebal ini:

”Hmm, benar juga ya. Kalau habis membaca tulisan ini hati langsung adem. Inginnya jadi putih, hatinya jadi bersih. Yang paling susah itu memang istiqomahnya. Senang banget bacanya, makanya saya taruh di sini, biar tidak hilang dan bisa dibaca berulang-ulang, terus siapa tahu bisa bermanfaat buat yg lain kalau dibaca. Buat aku sih tulisan itu bisa menjadi penyejuk hati kalau lagi emosi, kalau lagi tidak PeDe, kalau masih dendaman, kalau masih susah melupakan ketika memaafkan...”

Semoga.



Maraji':

1. Analisa Kebijakan Penggunaan Rompi Tahan Peluru Taktis Di Lapangan
http://buletinlitbang.dephan.go.id/index.asp?vnomor=12&mnorutisi=2
2. Benang Laba-laba dari Susu Kambing
http://www.chem-is-try.org/?sect=artikel&ext=17
3. Membersihkan 'Sampah' dari Pikiran
http://jerryronancy.blogs.friendster.com/chi/

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
10:15 11 Mei 2007

07 May 2007

DEAL GROUP I BATRE V

Yth. Kawan-kawan peserta Batre V
Kelompok I yang tidak hadir pada pertemuan tanggal 05 Mei 2007


Assalaamu’alaikum wr.wb.
Ba’da tahmid dan salam
Sabtu kemarin dari 11 anggota kelompok I yang hadir hanya 5 orang peserta, yaitu saya sendiri, Anindita Gayatri, Syafaatus Syarifah, Siti Azizah, Yulia Hasanah, dan Amalia Hassan.
Pertemuan kemarin adalah pertemuan untuk menyepakati siapa yang menjadi ketua kelompok, sekretaris, dan bendahara. Juga untuk menentukan pertemuan lanjutan, serta kewajiban-kewajiban para peserta. Berikut hasil kesepakatan dari pertemuan tersebut:

1. Karena saya satu-satunya laki-laki di kelompok I yang hadir pada pertemuan itu, maka saya langsung didaulat untuk menjadi ketua kelompok. Selagi mampu saya terima saja amanah itu;
2. Sekretaris adalah Anindita Gayatri sedangkan Bendahara adalah Siti Azizah;
3. Iuran peserta sebesar Rp30.000,00 per bulan. Yang dikumpulkan di pertemuan terakhir dalam bulan tersebut. Biasanya di minggu keempat. Langsung disetorkan ke Bendahara.
4. Setiap anggota kelompok I wajib hadir untuk mengikuti pertemuan yang diselenggarakan sekali dalam dua minggu. Apabila tidak bisa hadir maka diwajibkan untuk menemui Tutor pada hari esoknya atau pada hari yang telah disepakati. Apabila ternyata tidak bisa juga, maka ia harus berkewajiban untuk membuat sebuah tulisan dalam bentuk apa saja atau resensi sebuah buku. Di pertemuan selanjutnya akan ditagih atau apabila sudah dibuat maka tulisan tersebut dikumpulkan kepada Sekretaris.
5. Untuk pertemuan selanjutnya yaitu pertemuan perdana dari pelatihan BATRE V untuk kelompok 1 ini maka akan diadakan pada hari Sabtu, tanggal 12 Mei 2007 pukul 09.00 pagi WIB.
6. Telah dibagikan Daftar Peserta BATRE V Kelompok I, Silabus Pertemuan, dan Materi Pertemuan I dengan judul: Menulis Cerpen oleh Denny Prabowo serta Dongeng Kancil oleh Sapardi Djoko Damono. Bagi yang belum mendapatkan materi tersebut bisa langsung kontak kepada
- Tutor kita yaitu Denny Prabowo di nomor 08881425XXX/081802901XXX
- Asisten Tutor yaitu Nurhadiansyah di nomor: 08881750XXX

7. Ada tugas yang harus dikumpulkan pada hari Sabtu tanggal 12 Mei 2007 besok, yaitu mengumpulkan 3 dongeng (lokal ataupun internasional) terkenal dan dibuatkan sinopsisnya. Kita akan berusaha untuk merekonstruksi dongeng tersebut pada pertemuan I nanti;

Demikian hasil dari pertemuan kelompok I ini. Bila ada yang kurang jelas sila untuk menghubungi saya via telepon di nomor yang telah saya kirimkan via sms Sabtu kemarin. Kurang lebihnya mohon maaf. Billahittaufik wal hidayah.
Wassalaamu’alaikum wr.wb.


Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
http://dirantingcemara.blogspot.com

03 May 2007

ADD FAVICON

ADD FAVICON [MENAMBAH FAVICON DI BLOGSPOT]

Blog saya kedatangan seorang pengunjung dari Malaysia. Namanya Irfan Jani. Sebagai balasan atas kunjungannya tersebut saya pun berusaha mengintip jeroan dari blognya: Irfanreka. Dan saya mendapatkan pelajaran bagus dari blog itu. Yaitu membuat Favicon. Apa itu Favicon? Yang saya kotakkan dengan warna hitam pada gambar dibawah ini adalah Favicon.






Mengutip dari blog Irfan:

***
Apa yang anda lihat di atas adalah dinamakan sebagai “Favicon”. Apakah fungsinya?

Jika dilihat secara kasar, ia hanyalah hiasan ikon pada alamat web sahaja. Realitinya, ia sebenarnya adalah simbol/logo yang akan memudahkan sesiapa sahaja untuk mengingat jenama anda apabila menanda (bookmarking) halaman milik anda. (hanya drag ikon itu dan bawa ke bahagian Tab).

Fungsi Favicon hanya terdapat pada Pelayar Musang (Firefox..hehe) dan Internet Explorer 5+ dan ke atas Sahaja. Tapi, siapa tahu akan datang semua pelayar akan turut serta, kan?

***

Saya memakai Opera sebagai perambah (browser) dan untuk saya pasang di blog saya di Blogspot. Ternyata bisa memasang fungsi Favicon terebut. Dan tak perlu muluk-muluk Anda harus mempunyai Adobe Photoshop untuk mengolah gambar menjadi berformat ico. Saya memakai paint bawaan Windows juga bisa (sebagaimana saran dari Irfan juga). Oke tanpa berpanjang lebar saya akan memberikan ilmu dan pengalaman saya yang memang sedikit ini kepada Anda semua. Tapi sebelumnya alangkah lebih baiknya Anda membaca dulu blognya Irfan tersebut. Selamat mencoba.

1. Pertama Anda buka Program Paint di Accessories.
2. Open file pilihan Anda. Saya memilih gambar daun.
3. Buat ukuran file tersebut menjadi 16 x 16. Caranya buka: Image – Stretch/Skew.
4. Isi di pilihan Stretch, untuk horizontal dan vertikalnya dengan angka 16. Tekan OK.
5. Lalu Save As, pilih Save as Type: PNG agar tidak ada ketajaman warna yang berkurang. Lalu beri nama apa saja dengan membubuhkan titik dan huruf ico dibelakang nama file tersebut. File saya diberi nama daun.ico.







6. Save.

Sekarang saatnya untuk menampilkannya diblog kita.
1. Upload file tersebut di blog kita. Bisa di sidebar atau di dalam postingan blog kita. Saya memilih untuk menampilkannya di postingan blog saya.
2. Kemudian catat alamat favicon itu dengan mengklik kanan lalu pilih properties. Alamat file saya ada di:


http://1.bp.blogspot.com/_lKpbhf_LqcA/Rjk5lBE1_XI/AAAAAAAAABM/lJm9AbJcj_U/s200/Daun.ico


 




3. Edit HTML blog Anda dengan memasukkan kode ini:

<link
rel="shortcut icon" href="[alamat ico]" mce_href="[alamat ico]"
type="image/x-icon" />




4. Ganti [alamat ico] dengan alamat favicon pada poin dua di atas.
5. Menaruh kode tersebut di bawah

<HEAD>



6. Lalu save/simpan hasil edit HTML Anda.
7. Silakan lihat blog Anda sekarang. Favicon tersebut sudah muncul di Tab atau jendela browser Anda.

Wait the minutes...I’ll try to look my blog with other browser. Yes, Opera. It’s work.
And Mozilla, It’s work too. But, in IE, nothing happen. I do not know.
Tapi tidaklah mengapa. Yang penting ini berhasil.

Terimakasih kepada Irfan atas ilmunya.


Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Kalibata masih sunyi
09:23 03 Mei 2007

30 April 2007

AISHWARYA RAY


AISHWARYA RAY



Kyai tua itu duduk-duduk di depan teras masjid sambil memandang ke ufuk timur yang penuh semburat mentari pagi. Posisi masjid yang lebih tinggi dan berada di atas tebing membuatnya leluasa untuk memandang pesona alam. Halimun masih saja menyelimuti atap-atap rumah penduduk desa di bawah sana. Kicau burung membahana diiringi gemericik air pancuran yang berada di samping masjid itu. Ada geliat para petani menuju sawah dengan cangkul yang tergantung di pundak masing-masing.
Benar-benar deskripsi klasik dari sebuah pemandangan pedesaan bumi pasundan semuanya terukir jelas di pagi itu. Pagi yang seperti biasa ia lalui bertahun-tahun ini dengan zikir-zikir Almatsurat usai subuh yang terlontar dari mulutnya dan mulut para santrinya. Setelahnya ia akan sendiri duduk-duduk di teras masjid dengan mushaf berada di pangkuannya. Membiarkan ia dimandikan cahaya. Menghangatkan tubuhnya yang mulai merenta hingga dhuha jelang. Sedangkan para santrinya sekarang mulai mengisi kekosongan pagi itu dengan aktivitas rutinnya.
Tapi ada salah satu santrinya tetap tidak beranjak dari tempat duduknya. Beberapa saat kemudian bahkan ia mendekat pada ajengan yang sangat dihormatinya di pesantren itu. Sang Kyai menoleh pada salah satu santri ”khususnya” ini. Dan selanjutnya cuma dialog ini yang terekam.

Santri : Assalaamu’alaikum Ki
Kyai : Wa’alaikum salam. Loh kok masih di sini?

Santri : Iya, Ki. Mau curhat lagi.
Kyai : Masalah yang kemarin sudah selesai?

Santri : Alhamdulillah sudah Ki. Sekarang saya sudah bisa membiayai kuliah saya sendiri. Bulan depan orang tua saya tidak akan lagi kirim uang. Upah jadi asisten dosen lumayan cukup Ki, apalagi ditambah ngerjain proyek kecil-kecilan.
Kyai : Syukurlah. Sekarang apa lagi? Masalah cewek?

Santri : Kyai kok tahu?
Kyai : Halah, orang tua kok dilawan. Kamu itu kalau tidak masalah uang ya masalah itu tadi. Kuno tapi eksis, masalah sedari Nabi Adam diturunkan ke bumi sampai hari kiamat yang tidak pernah selesai dengan sendirinya.

Santri : Tapi Ki, untuk yang satu ini memang kuno, tapi...
Kyai : Tapi apa?

Santri : Kuno dan moderen. Kuno karena yang dibahas adalah wanita, moderen karena ia lagi heboh di jagat dunia hiburan. Dan karena ia telah meluluhlantakkan kekosongan hati saya Ki...
Kyai : Wah..wah...kamu ini pura-pura gak tahu atau sengaja nyeleneh. Pondasi sebuah pesantren sangat jauh dari sebuah hedonisme. Bahkan ianya layaknya bumi dan langit. Tak usah kamu bawa-bawa ke sini. Saya juga heran dapat dari mana info-info seperti itu. Di sini kan tidak ada televisi.

Santri: Koran Ki. Koran. Itupun cuma dari sobekan kertas pembungkus nasi uduk yang biasa saya beli di kantin kampus.
Kyai : Tunggu...tunggu dulu. Memangnya apa sih yang akan kamu ceritakan?

Santri : Begini Ki, saya kok ngimpi. Ngimpi kawin sama bintang film India.
Kyai: : Kawin apa nikah?

Santri : Nikah Ki...nikah. Bukan ”kawin” seperti itu ah...
Kyai : Lalu apa tidak enaknya buat kamu?

Santri : Ya, itu Ki. Saya jadinya nelangsa. Bintang film itu kawin sama bintang film lainnya. Kenapa ya Ki, dia tidak kawin sama saya saja gitu loh...
Kyai : Busyet...emangnya siapa kamu jang...? Selebritis? Orang terkaya di dunia? Pembalap F1? Atau pesepakbola tersohor?

Santri : Yah Kyai…dengerin saya dulu dong Ki. Kyai, mau dengerin curhat saya enggak sih?
Kyai : He…he…he…Iya, saya dengerin. Siapa bintang film itu?
Santri : Aishwarya Ray. Ratu kecantikan dunia. Cantik sekali, Ki. Matanya, duh…matanya itu lo Ki. Seindah zamrud merah. Hidungnya, rambutnya …ram…

Kyai : Stop…! Stop…! Pikiranmu sudah mulai ngeres, sudah pisikelli. Santri kayak kamu kok bisa mikirin awewe?
Santri : Saya manusia Ki, bukan malaikat. Saya baru menemukan manusia secantik dia. Tapi kenapa dia tidak nikah sama saya saja gitu… Nikahnya kok sama anaknya Amitabh Bachan. Kyai pasti tau deh Amitabh Bachan. Seumuran Kyai mungkin. Dia kan bintang film terkenal dulunya Kyai.

Kyai : Saya tidak kenal dia dan saya tidak pernah nonton film india. Lanjut!
Santri : Ya itu tadi Kyai. Kenapa dia kawin sama yang lain. Kenapa tidak sama saya? Coba kalau Allah menakdirkan dia kawin sama saya. Saya akan memberikan cinta saya untuknya. Saya akan memberikan rindu ini hanya untuknya. Sepenuh hati. Saya tidak akan pernah menyakiti dia. Baik dengan ucapan atau tindakan saya. Duh, saya nelangsa Kyai...Ray itu bidadari buat saya.

Kyai : Hei, memangnya Ray itu kenal sama kamu?
Santri : Tidak Kyai.

Kyai : Lalu kenapa optimis sekali kalau Ray itu mau dikawin sama kamu?
Santri : Yah, makanya itu kan kalau Allah menakdirkan demikian. Tahu-tahu dia sudah ada dihadapan saya dan mau dilamar oleh saya. Tinggal Allah tunjukkan jalan saja padanya, Beres sudah.

Kyai : Kalaupun Ray itu kenal sama kamu, malah mau dikawin sama kamu. Emang boleh kamu ngawinin dia?
Santri : Lah siapa yang melarang? Boleh kan saya muslim kawin sama dia. Kalau ada yang melarang, berarti melanggar hak asasi saya dong kyai.

Kyai : Halah, jang...jang sudah berapa lama sih kamu nyantri di sini? Baca kitab-kitab di sini? Segitu aja kok gak tau? Kumaha eta?

Santri : Memangnya kenapa Kyai?
Kyai : Kamu ini pura-pura lupa atau tidak tahu sama sekali?
Santri : Sepengetahuan saya, boleh dong Kyai, seorang muslim kawin sama wanita musyrik.
Kyai : Salah besar. Yang melarang kamu untuk ngawinin Ray itu si pemilik hak Asasi paling mutlak di semesta ini. Tuhannya aku dan kamu. Allah. Baca lagi AlBaqarah ayat 221. Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musrik, sebelum mereka beriman. Saya pastikan si Ray itu hindu bukan? Perempuan penyembah berhala.

Santri : Betul sih, dia hindu. Kawinnya dia sama abishek pake adat hindu. Jadi haram ya Kyai, ngawinin wanita hindu. Saya mengira yang tidak boleh itu kalau ada wanita muslimah nikah sama pria musyrik. Ternyata laki-laki muslim tidak boleh juga. Mengapa sih kyai...? Kan dia perempuan, setidaknya secara psikologis perempuan mudah untuk diajak kemana arah dari suami. Tinggal bagaimana saya sebagai seorang pria benar-benar berkomitmen memegang ajaran ini. Jadi tak mungkin untuk bisa keluar dari agama saya.

Kyai: Siapa menjamin? Perintahnya pun sudah tegas begitu. Berbeda jikalau kamu menikahi perempuan-perempuan ahli kitab. Tapi itupun dengan syarat tiadanya kekhawatiran perempuan-perempuan itu akan memberikan pengaruh kepada anak-anak kamu termasuk pendidikannya.

Santri : Kyai belum menjawab di balik semua itu. Mengapa kami tidak boleh bersatu?
Kyai : Bagaimana sesuatu yang berbeda sangat jauh bisa didekatkan? disatukan? Di satu pihak mengajak ke surga sedang di lain pihak mengajak ke neraka. Di satu pihak beriman kepada Allah dan para Nabi serta hari kiamat, sedang di lain pihak menyekutukan Allah dan ingkar kepada nabi serta hari kiamat. Tujuan perkawinan ialah untuk mencapai ketenteraman dan kasih-sayang. Sekarang bagaimana mungkin dua segi yang kontradiksi ini akan bertemu?

Santri : Sayang, Ray bukanlah seorang nasrani?
Kyai : Halah, semuanya tidak lebih baik dari seorang muslimah. Rasul sendiri pernah bersabda: pilihlah perempuan yang beragama, sebab kalau tidak celakalah dirimu. Walaupun boleh, tetap saja seorang muslimah betapapun keadaannya adalah lebih baik bagi seorang muslim, daripada perempuan ahli kitab. Lalu kamu akan berandai-andai lagi, sayang dia bukanlah seorang muslimah. Terlalu banyak berandai-andai itu tidak baik.

Santri : Ah, Kyai. Entahlah hati saya masih nelangsa seperti ini.
Kyai : Kamu ini kurang wirid. Ditambah lagi sudah saatnya kamu kudu kawin. Ngomong-ngomong, tadi siapa cewek India tadi? Ai..ai...

Santri : Aishwarya Rai, Kyai.
Kyai : Yah..yah..si Aishwa...Aishwai...ray. Aduh pokoknya si dia. Tapi kamu tahu tidak jang. Ada si Ai yang mau sama kamu? Ai Anjarwati. Pembantunya Nyai di rumah. Mau?

Santri : Cantik, Kyai?
Kyai : Hah, dia bahkan lebih mulia daripada si Ai-nya kamu itu. Sudah, saya mau dhuha dulu. Kamu istikharah saja.

Sang Kyai melenggang menuju ruang utama masjid. Tubuhnya sudah mulai menghangat. Sedangkan santri itu kini wajahnya oranye. Terpapar matahari dhuha. Memandang ufuk timur. Dengan pemikiran baru tentang Ai. Ai yang baru.

***
Maraji:’ Halal dan Haram, Yusuf Al-Qaradhawy


Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Kalibata masih siang
12:29 30 Maret 2007
http://10.9.4.215/blog/dedaunan
http://dirantingcemara.blogspot.com

28 April 2007

Add Recent Reader


Add Recent Reader



[Memanjang dari Kiri ke Kanan}



 



Saya punya recent reader dari mybloglog. Awalnya letaknya
ada di sidebar sebelah kiri, satu kolom menurun dari atas ke bawah. Otomatis
dengan layout seperti ini, sidebar yang letaknya di bagian bawah postingan,
semakin turun ke bawah dan makan tempat. Pengunjung harus memainkan scrollbar
untuk melihatnya.



Dan saya melihat recent reader yang dimiliki oleh Kang
Agus ini apik dilihat dengan tata letak yang memanjang dari kiri ke kanan dan
tentunya tidak memakan tempat. Apalagi username yang terbaca oleh
mybloglog tidak tampak. Cukup avatarnya yang terlihat.



Saya berusaha melihat script yang diberikan mybloglog kepada
saya saat pertama kali mendaftar dan menampilkannya di sidebar.
Berikut
scriptnya:



<script
src="http://pub.mybloglog.com/comm2.php?mblID=2007041603253038&amp;c_width=180&amp;c_sn_opt=y&amp;c_rows=10&amp;c_img_size=f&amp;c_heading_text=Recent+Readers&amp;c_color_heading_bg=005A94&amp;c_color_heading=ffffff&amp;c_color_link_bg=E3E3E3&amp;c_color_link=005A94&amp;c_color_bottom_bg=005A94"
type="text/javascript"></script>


 


Dan saya
bandingkan script yang dimiliki oleh Kang Agus:



<script type="text/javascript"
src="http://pub.mybloglog.com/comm2.php?mblID=2006032804592852&c_width=800&c_sn_opt=n&c_rows=2&c_img_size=f&c_heading_text=&c_color_heading_bg=005A94&c_color_heading=ffffff&c_color_link_bg=E3E3E3&c_color_link=005A94&c_color_bottom_bg=005A94"></script>


 


Pada
pandangan pertama saya melihat letak bedanya ada di width dan row.
Saya menyamakan kedua perbedaan tersebut. Saya isi width-nya dengan angka
800 dan row-nya 2. Saya simpan perubahan tersebut dan saya taruh
sidebarnya di bagian bawah blog. Dan ternyata: Amburadul….oh…oh…Amburadul.



Yang terlihat: sama dengan format awal. Cuma bedanya, sekarang
hanya ada dua avatar pengunjung yang terlihat dan ada kolom yang memanjang
kekanan. Jelek sekale...Utak-atik lagi. Simpan dan ubah lagi. Sampai saya putus
asa. Pada akhirnya pada titik-titik terakhir keputusasaan, saya menemukan
sesuatu mengapa tidak sama tampilannya dengan yang dipunyai Kang Agus. Saya
belum menghapus amp;



Setelah saya hapus amp;
dan tulisan Recent+Readers di script
saya dengan berusaha menyamakan script (contohnya meletakkan
type="text/javascript” di depan, punya
saya ditulis di bagian belakang script)—tapi ada yang wajib tidak disamakan
yaitu nomor ID yang kita miliki. Karena bila IDnya disamakan maka yang tampak
adalah recent reader-nya kang Agus. Pula ia adalah nomor identik dan unik
yang diberikan mybloglog kepada kita—maka saya dapat hasil yang memuaskan.
Recent Reader saya sama dengan penampakan yang ada di Kang Agus. Nah begini
ceritanya: (halah...)



 



<script type="text/javascript"
src="http://pub.mybloglog.com/comm2.php?mblID=2007041603253038&c_width=600&c_sn_opt=n&c_rows=2&c_img_size=f&c_heading_text=&c_color_heading_bg=005A94&c_color_heading=ffffff&c_color_link_bg=E3E3E3&c_color_link=005A94&c_color_bottom_bg=005A94"></script>


 


Saya
sesuaikan ukuran width dengan ukuran width blog saya. Yaitu 600
dan nilai row adalah 2. Hasilnya adalah seperti sekarang pembaca lihat. Enak
dilihat bukan…?



Apa yang saya rasakan? Tentunya puas,
senang, dan bahagia. Saya yang pemula kayak begini dapat mengedit. Dan meminjam
istilah dari Kang Agus, mengedit itu ternyata mengenyangkan. Mengenyangkan batin
kita tentunya… :-p.



Silakan tiru script saya ini, jikalau memang berguna. Dan
saya penasaran untuk meniru dan mengetahui hakekat dibalik script.   Itu saja.



 



Wassalaamu’alaikum wr.wb.



 



 



Riza almanfaluthi



Dedaunan di ranting cemara



14:38 28 April 2007



 



 

27 April 2007

Add Email Icon Generator, Membuat Ikon Pribadi

Add Email Icon Generator
Membuat Ikon Pribadi [Khusus Blogger Pemula]

Awalnya saya tertarik tentang bagaimana caranya membuat banner pribadi. Soalnya saya melihat betapa para blogger kayaknya punya banner kecil sebagai identitas pribadinya. Seperti bannernya edittag, fatih syuhud, dan para blogger terkenal lainnya. Caranya bagaimana? Pertanyaan itu yang mengemuka.
Ohya, tiba-tiba saya teringat untuk mencarinya di Google. Saya memasukkan kata kunci: membuat banner pribadi Dan ketemu!!! Ada sebuah situs yang telah membahas ini dengan mudahnya. Yaitu di alamat ini sugoistanley . Alih-alih mencari cara membuat banner pribadi, eh, ternyata saya menemukan sesuatu yang menarik yaitu Membuat Ikon buat Pribadi.
Arti dari ikon pribadi itu adalah ikon yang menampilkan informasi pribadi ataupun sekadar ajang narsisme di blog ataupun di forum. Itu yang saya dapatkan dari penjelasan di situs tersebut. Ini disediakan melalui aplikasi yang bernama Online Generator. Ini adalah sebuah aplikasi online berbasis web yang dapat menghasilkan (generate) sesuatu, seperti banner, avatar, id-card, CSS, dsb. Di Internet banyak terdapat beberapa online generator yang dapat digunakan secara cuma-cuma (cuma modal akses internet saja). Itu yang saya dapatkan dari penjelasan di situs tersebut.
Salah satu aplikasi dari online generator ini adalah: Email Icon Generator. Kalau Anda melihat di sidebar kanan blog saya ini ada sebuah gambar dengan identitas email saya di gmail.com maka itulah yang disebut email icon generator. Berguna untuk menghasilkan sebuah icon/gambar email untuk beberapa penyedia email populer seperti Yahoo dan Gmail—dan masih banyak lagi penyedia layanan email lainnya.
Email Icon Generator ini sangat bermanfaat untuk menghindari spam, karena yang ditampilkan berupa gambar. Karena kalau kita menulis alamat email disini, biasanya terlacak oleh spam. Makanya seringkali kita menemui para blogger yang menuliskan alamat emailnya dengan langsung menulis hurufnya seperti misalnya karakter @ ditulis at, karakter . ditulis dot. Ini semata-mata untuk menghindari spam.
Kembali kepada topik awal kita. Lalu bagaimanakah cara membuat dan menampilkannya di blog kita. Ikuti cara sederhana ini:

1. Kunjungi situs ini: services.nexodyne.com
2. masukkan nama email Anda dan pilih situs penyedia layanan email Anda.
3. Tekan tombol Generate.
4. Lalu muncul ikonnya;
5. Untuk menampilkan ikon tersebut di blog Anda maka copy url berwarna merah yang tampil di bawah gambar tersebut.
6. Lalu pasang di blog Anda. Kalau untuk para Blogger di Blogspot maka bisa saya uraikan disini bagaimana cara pemasangannya. Yaitu di menu template Anda, klik Add a Page Element;
7. Pilih menu Picture dengan menekan tombol Add to Blog;
8. Lalu paste alamat url tersebut di Image from the Web;
9. Save Changes.
10. Selesai sudah.

Nah demikian ceritanya. Semoga berhasil yah…Ini sekadar buat pemula seperti saya. Mungkin berguna juga buat blogger pemula yang lainnya. Kurang lebihnya mohon maaf.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
13:19 27 April 2007.

26 April 2007

ELANG RETAK: MATI BUKAN MASALAH, HIDUP YANG JADI PERSOALAN

ELANG RETAK: MATI BUKAN MASALAH, HIDUP YANG JADI PERSOALAN

Judul: Elang Retak
Penulis: Gus Ballon
619 Hal. Cetakan I, Juli 2005
Penerbit: Q-Press (Kelompok Penerbit Pustaka Hidayah)
Alamat: Jalan Rereng Adumanis 31, Sukaluyu Bandung 40123 Jawa Barat, Indonesia

Novel ini saya temukan dalam tumpukan buku diskon yang dijual oleh toko buku terkenal di Depok. Sebuah buku cerita tebal yang dibanderol dengan harga cuma lima belas ribu rupiah. Tebal dan murah, dua parameter ini yang membuat saya membelinya setelah beberapa hari sebelumnya saya kosong dari aktivitas membaca.
Saya mungkin terlambat untuk membacanya dan untuk membuat sebuah tulisan tentang novel ini, oleh karena itu saya tidak akan membahas dengan mendalam apa isinya, karena sudah pernah dibahas oleh Alif di forum diskusi ajangkita, dan oleh Perca di blognya. Jadi saya menulis apa yang saya rasakan setelah membacanya.
Pertama adalah masalah si penulisnya. Baru kali ini saya tidak melihat sebuah pengenalan pribadi dari seorang penulis novel. Di sana tak ada satu halaman pun sebagai kata pengantar atau biografi kecil dari penulis. Entah Gus Ballon ini adalah nama asli atau nama pena. Sungguh mengundang kepenasaran bagi saya karena novel ini bagus.
Baru pertama kali ini pula ada novel—yang seperti Alif katakan—sebuah novel thriller militer berlatar belakang operasi militer ABRI. Membacanya membuat saya berempati terhadap keadaan para prajurit yang hidup dengan keprihatinan tetapi penuh semangat perjuangan, polos dan dengan kepolosan tersebut mereka hanya menjadi pion dari sebuah ambisi politik dari para jenderal yang berkhianat dan tega untuk mengorbankan mereka.
Novel ini pun membuat saya tidak bisa beranjak dan melepaskannya dari tangan ini. Semakin bertambah banyak halaman yang terbaca semakin bernafsu untuk segera menuntaskannya. Karena seru, tegang, dan lucu. Ya, kelucuan dari seorang Jajang Nurjaman, prajurit urakan, ahli tempur, yang tidak mengenal medan (antara hidup dan mati) untuk selalu mengeluarkan gurauan.
Jajang hanyalah satu dari empat belas prajurit yang dikirim ke Pulau Kabilat di Pasifik untuk sebuah misi khusus. Misi untuk menghancurkan batangan emas yang dimiliki oleh pemberontak yang akan ditukarkan dengan senjata dan amunisi yang dikirim oleh Jenderal Korea Utara yang korup.
Keempatbelas orang tersebut adalah prajurit-prajurit amburadul, urakan, cara berpakaian seenaknya, terkesan tidak dispilin, yang dibuang dan tidak disenangi oleh kesatuan lain, tapi ganas dan tidak takut mati. Dan yang ada di markas hanya mereka pada saat itu untuk dikirim segera. Maka mereka adalah:
Sersan Kepala Peter Soselisa. Lahir di Ambon. Peraih medali keberanian dalam operasi”Trisula”, ”Seroja”. Berpengalaman dalam berbagai aksi khusus maupun gabungan. Jabatan terakhir, instruktur kepala. Brevet: terjun bebas. Satu kali penangguhan pangkat karena tindakan indispliner dan satu kali penurunan pangkat karena melanggar perkawinan. Istrinya dua. Karena tidak tega untuk menceraikan salah satu istrinya maka ia menceraikan dua-duanya.
Sersan Mayor Fajar Sidik, mahir berbagai senjata, empat kali tugas khusus, satu kali aksi gabungan. Mendapat medali atas keberaniannya menolong yang luka sewaktu kontak senjata jarak dekat. Brevet: Pendaki Utama. Satu kali penundaan pangkat.
Kopral Dua Jajang Nurjaman. Asal Ciamis. Mahir berbagai senjata. Empat tugas khusus, tiga kali aksi gabungan. Mendapat medali atas keberhasilannya melumpuhkan sebuah kubu musuh dalam pertempuran di sekitar Laga. Juga medali keberanian mencuri bendera di markas musuh sekitar Hiomar. Satu kali penurunan pangkat, dua kali penundaan pangkat.
Prajurit Satu Baringin Sinaga, lahir di Brastagi. Ahli senapan mesin. Tiga kali tugas khusus, satu kali tugas intelijen. Satu kali penundaan pangkat karena memukul seorang kapten dari kesatuan lain.
Prajurit Satu Eko Cahyono. Ahli peledak. Dua kali tugas khusus. Pernah meledakkan bahan bakar musuh di hutan Baucau. Brevet: Pendaki utama. Satu kali penurunan pangkat akibat berkelahi dengan polisi lalu lintas, gara-gara mengejek soal setoran surat tilang. Empat polisi dirawat di RS.
Prajurit Satu Margono Priambodo, lahir di Jetis, Muntilan. Ahli senapan mesin. Satu kali tugas khusus, satu kali aksi SAR. Satu kali penurunan pangkat karena indisipliner.
Prajurit Dua Mansur Karim. Lahir di Solo dari ayah Arab dan ibu Jawa. Satu kali tugas khusus, satu kali aksi intelijen. Mendapat medali atas keberaniannya menawan perwira musuh. Dua kali penundaan pangkat.
Prajurit Dua Gerson Nelson, asal Flores. Ahli radio komunikasi dan sabotase. Satu kali tugas khusus. Satu kali penundaan pangkat beturut-turut, karena melanggar perintah.
Prajurit Dua Panji Kurnia. Anak pensiunan PM, lahir di Grsik. Guru ngaji di barak. Jago tembak (sniper). Satu kali tugas khusus. Brevet: penembak mahir. Satu kali penurunan pangkat karena menembak pantat penjual ganja tanpa bukti.
Prajurit Satu Ahmad Basso, asal Makassar. Dua kali tugas khusus. Batal mendapat medali. Ahli perkelahian satu lawan satu. Satu kali hukuman kurungan karena menjual ransum sebanyak setengah truk.
Kopral Satu Bram alias Ibrahim Ali Fatoni, Jakarta asli. Satu kali operasi intelijen, dua kali tugas khusus. Dua kali lolos dari tawanan musuh. Ahli mekanik dan komunikasi. Brevet: Penyelam mahir. Satu kali penurunan pangkat—dua tingkat sekaligus—karena meledakkan lima truk pengangkut pasir milik pemborong yang mengganggu ketentraman sebuah desa di Tangerang. Satu kali lagi penundaan pangkat karena masuk rumah seorang lurah melalui atap, dan mengancam lurah tersebut agar membereskan masalah ganti-rugi tanah di daerah Sawangan.
Kopral Dua Jamal Ahman, ahli peledak asal Bangkalan Madura. Tiga kali aksi khusus, tiga kali terluka. Satu kali penindaan pangkat karena kabur selama 40 hari untuk menyepi di Gua Surowati—gua pertapaan Sunan Kalijaga—dan 21 hari bertapa di Batu Ageng—tempat bertapa Sunan Drajat di Paciran, Tuban.
Sersan Mayor Albertus, lima belas kali tugas khusus, delapan kali aksi gabungan, lima kali tugas intelijen, dua kali operasi SAR. Mahir berbagai senjata dan pertarungan tangan kosong. Semua medali dicabut. Brevet: terjun bebas. Tiga kali penurunan pangkat, dua kali penundaan pangkat, dan dua kali hukuman kurungan.
Dan Harun Bayonet, tokoh utama dalam novel ini, si Bajingan, sipil, yang direkrut oleh militer karena mengenal seluk beluk Pulau Kabilat. Mahasiswa yang menjadi buronan karena telah membunuh bandar judi dan melukai seorang polisi Medan saat dirinya dikeroyok. Ia bilang ia cuma dalam rangka membela diri. Veteran perang vietnam yang direkrut oleh SEAL sebagai sukarelawan melawan vietcong. Saat Saigon jatuh ia melarikan diri dan bergabung dengan penyelundup senjata dari Filipina yang bermarkas di Pulau Kabilat. Mahir M16, pisau, dan perkelahian satu lawan satu.
Mereka dipimpin secara hirarki oleh Letnan Risman Zahiri, seorang sederhana, ramah, rendah hati, prajurit tempur berpengalaman, dan disegani oleh anak buahnya. Sosoknya mirip seorang ajengan dan ia mempunyai julukan Kyai Guntur.
Dan dalam misi khusus yang bersandi Konta ini mereka dipimpin oleh Mayor Santoso, prajurit dan komandan tempur berpengalaman, tegas, tidak mudah tersenyum, dan punya satu prinsip: semua tugas harus dituntaskan sebagai Prajurit Komando.
Saat membaca novel yang bersetting akhir tahun 70-an dan pertengahan 80-an—walapun tidak dinyatakan secara tegas, saya tidak menyangka ada sebuah deskripsi seperti ini. Biasanya cuma ada di film-film holywood. Tidak menyangka bahwa kita pun sebenarnya punya kesatuan tempur yang tangguh secara professional. Gambaran ini perlu agar menyadarkan pembaca bahwa pasukan ABRI (sekarang TNI) walaupun dengan keterbatasan yang ada tidak bisa dipandang sebelah mata.
Maka dengan berbagai keahlian tempur yang dimiliki, berangkatlah mereka untuk melaksanakan misi yang tanpa disadari pula bahwa ada yang telah membocorkan pendaratan mereka. Maka berbagai masalah pun mulai bermunculan. Diakhir cerita Jajang selamat dalam misi tapi tetap saja dihukum untuk menghormat bendera di tengah lapangan karena memukul pejabat dan membuat mobil sang pejabat penyok.
Dengan Santoso yang menyadari bahwa dirinya cuma pion dari ambisi segelintir orang untuk melanggengkan kekuasaan. Dengan tetap mendapatkan pelajaran penting dari seorang manusia yang bernama Harun: sebagai apa, untuk apa, dan bagaimana ia hidup, itulah yang utama. Ia hanyalah manusia dengan kelebihan dan juga keterbatasannya.
Secara umum alurnya menarik, penuh ketegangan. Apalagi penuh perenungan diri dari sang tokoh. Terantuk pada sebuah kalimat: mati bukan masalah, hidup yang jadi persoalan. Mulai mengenal Tuhan, saat jelang maut. Tipisnya batas antara hidup dan mati. Saya memberi nilai tiga bintang untuk novel ini. Bagus tapi belum sedramatis JRR Tolkien yang mampu mengundang pembaca untuk membaca bukunya berulang kali. Tapi cukuplah sebagai alternatif bacaan sebagaimana penerbitnya tegaskan dalam pengantarnya.
Allohua’lam bishshowab.


Riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:07 26 April 2007
Gelas itu masih bening
http://10.9.4.215/blog/dedaunan
http://dirantingcemara/blogspot.com

25 April 2007

6 BULAN UJIAN SEBENARNYA

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Ba'da tahmid dan salam.
Setelah diawali dengan sebuah pesimisme tentang bisakah saya lulus untuk mengikuti Basic Training for Beginner V (BATRE V) yang diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Depok, akhirnya 20 April 2007 kemarin, sang Ketua FLP Depok, Koko Nata, memberikan sebuah woro-woro hasil seleksi tersebut dalam sebuah essaynya yang disebarkan melalui milis dan dimuat di blog komunitas penulis akhirat itu, http://flpdepok.multiply.com/.

Ternyata saya lulus, dan dikelompokkan dengan calon peserta BATRE V yang lainnya, yang belum pernah saya jumpai sebelumnya. Berikut nama-nama peserta Batre V didasarkan keleompoknya--saya tidak tahu atas dasar apa pengelompokkan tersebut.
Kelompok I: Anindita Gayatri, Bhayu Mahendra H, Dunianti Hinda Maharani, Hermanu, Ihsan Maskuri, Riza Almanfaluthi, Ronald P. Putra, Syafaatus Syarifah, Siti Azizah, Yulia Hasanah.
Kelompok II: Arya Fernandes, Danni Azzam, Diah Ayu Sekararum, Nadia Nurhaliati,
Neneng Tsani, Qurratuain, Riani Anggraeni, Ririk, Shahibah Yuliani, Tijih Andri
Kelompok III: Diah Ayu Sekararum, Fadila, Indriani Putri, Isti, Muhammad Erfan, Nurul M, Nur Hasanah, Sari Harum Melaty, Sidiq, Siti Mundasah.

Nah, setelah itu ujian sebenarnya akan datang. Selama 6 bulan itu seluruh peserta akan diberikan pelatihan menulis. Loh kok ujian lagi. Yup, ujian atas sebuah ketekunan dalam kehadiran, ujian atas sebuah konsistensi, ujian atas sebuah pelurusan niat. Karena, sebagaimana Koko Nata telah tegaskan bahwa FLP Depok tak punya tongkat ajaib yang bisa menyulap seseorang menjadi penulis hebat.FLP Depok tak bisa memberikan apapun materi, anggotalah yang harus senantiasa memberi karena sesungguhnya ketika memberi maka kita akan menerima. Wow...berat juga yah. Enam bulan loh, Dua belas pertemuan. Dua jam dalam sekali pertemuan.

Hanya satu kendala bagi saya adalah lemahnya semangat. Mungkin di awal, semangat saya begitu menggebu-gebu untuk mengikuti pelatihan ini. Tapi biasanya di pertengahan, kebosanan sudah mulai merambati diri. Terbukti kegagalan saya dalam menekuni pelatihan bahasa Inggris di LIA, yang tidak pernah saya tuntaskan padahal sudah bayar mahal. Kiranya saya senantiasa butuh penyemangat agar tercapai target jangka pendek saya yaitu: selalu hadir dalam setiap pertemuan. Itu saja bagi saya adalah sebuah kesuksesan yang luar biasa.

Saya harap saya tidak lemah semangat.
Saya harap saya tidak malas.
Saya harap saya senantiasa tekun.
Saya harap saya dapat mengikutinya tanpa jeda.
Saya harap Allah menguatkan saya.
Itu saja harap saya.
Doakan.

riza almanfaluthi
dEDAUNAN di ranting cemara
08:06 25 April 2007

24 April 2007

LULUSKAH SAYA DI BATRE V?

LULUSKAH SAYA DI BATRE V?


Saya mendaftarkan diri untuk mengikuti Batre (Basic Writing
Training for Beginner) ke-5 yang diadakan oleh komunitas
penulis Forum Lingkar Pena Cabang Depok. Syaratnya selain
harus menyetorkan uang sebesar Rp39.000,00 untuk biaya
pendaftaran juga harus menyerahkan sebuah tulisan dalam bentuk
dan jenis apapun untuk dilihat oleh panitia. Saya menyerahkan
sebuah essay yang berjudul Martabak Buat Bapak Polisi. Sebuah
tulisan yang belum lama dibuat. Dan saya harus mengikuti
writing test-- gunanya untuk menyeleksi seberapa jauh
kemampuan menulis para peserta—pada hari Ahad kemarin (15/4)
di Rumah Cahaya markas FLP Depok.
Tetapi karena adanya musibah, yaitu dengan meninggalnya ibunda
tercinta saya pada hari Kamis yang lalu dan saya harus pulang,
maka saya tidak bisa mengikuti ujian tertulis tersebut. Sempat
ada kekhawatiran bahwa saya tidak diperkenakan untuk bergabung
dengan FLP Depok pada periode ini tetapi setelah saya sms
Ketua FLP Depok, Koko Nata, tentang ketidakhadiran saya
tersebut, ia memberikan kesempatan kepada saya untuk tetap
mengikuti ujian tersebut. Dan saya mendapatkan email seperti
ini:

***
Assalamualaikum Wr Wb

Karena Mas dan Mbak berdua tidak bisa hadir pada acara perdana
BATRE
kemarin, silahkan buat tugas di bawah ini

1. Coba deskripsikan diri Mas/Mbak sendiri. Bisa secara fisik,
psikologi dll. Bentuknya bebas. terserah deh mau nulis apa
2. Tuliskan impian, harapan dan cita-cita setelah bergabung
dentgan FLP

Peserta kemarin, harus menyelesaikan tugas tersebut selama 30
menit.
Di rumah/kantor Mbak dan Mas bisa melakukukan hal yang sama.
Kirim
tulisan tersebut ke e-mail ini. Saya tunggu paling lambat hari
Kamis.

Selamat menunaikan tugas ^_^

Wassalam

***

Saya bersemangat sekali saat mendapatkan email
tersebut. Saya mengerjakan tugas itu di rumah pada pukul
17.27, sesaat setelah menerima email dari Panitia BATRE. Dan
saya berkomitmen bahwa saya harus mengerjakannya dalam waktu
yang telah ditentukan, walaupun tidak ada Panitia yang
melihat. Sekali lagi, karena ini adalah sebuah penghargaan
terhadap kesempatan yang diberikan kepada saya. Dan tentunya
harapan saya adalah saya dapat lulus dari ujian ini.
Ohya, pengumuman kelulusannya Insya Allah akan diumumkan pada
tanggal 21 April esok. Kalau saya lulus, saya bersyukur. Tidak
lulus? Yah, tetap berusaha di periode mendatang di bulan
September nanti.
Dan Alhamdulillah, pada menit ke-30 saya sudah
berusaha menghentikan ketukan jari pada tuts keyboard ini.
Lumayan satu seperempat halaman terselesaikan. Sebuah
deskripsi tentang saya. Fisik dan psikologi. Berikut hasilnya:


Inilah Saya


Riza Almanfaluthi adalah nama saya. Cuma orang biasa yang
berusaha menjadi lebih baik lagi di setiap harinya. Lahir di
Jatibarang, sebuah kota kecil di Kabupaten Indramayu tepatnya
tanggal 24 Juli 1976. Sekarang sedang menapaki usia kepala
tiga, sebuah usia yang membuat saya terkejut karena saya sudah
tidak muda lagi. Tapi, show must go on, mau tidak mau hidup
harus dijalani, tinggal memilih kehidupan yang lebih baik atau
buruk di akhir. Tentu sebagai manusia yang bertuhan saya pasti
akan memilih yang pertama. Khusnul khotimah, penghabisan yang
terbaik.
Tinggal bersama orang tua selama menempuh
pendidikan di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, lalu
berpisah saat menempuh pendidikan menengah atas karena sekolah
di Cirebon, membuat saya bisa hidup mandiri. Artinya saya
terbiasa jauh dari orang tua. Ditambah lagi saat Allah
mengizinkan saya untuk menempuh kuliah di Jakarta yaitu di
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Spesialisasi Perpajakan di
tahun 1994 membuat saya kembali hidup jauh dari orang tua.
Kemandirian sejak kecil itulah yang senantiasa
membuat saya berusaha untuk sukses dengan kaki sendiri—tentu
kehendak Allah bermain sepenuhnya dalam kehidupan saya. Selama
saya masih bisa untuk melakukan suatu pekerjaan itu sendiri
mengapa saya harus meminta bantuan orang lain. Selain karena
merendahkan diri sendiri juga karena selalu ingat kata-kata
bijak dari Sang Nabi Terakhir bahwa tangan yang di atas
selalu lebih baik daripada tangan dibawah. Inilah yang saya
pegang.
Secara fisik, saya sama dengan orang kebanyakan di
republik ini. Kata orang sih, dan ini saya akui sendiri, warna
kulit saya hitam. Tapi tentunya tidak selegam orang India dan
Afrika sana. Rambut saya lurus dan tentunya—lagi-lagi—hitam.
Tinggi biasa-biasa saja. Kurang lebih 165 cm.
Ganteng? Relatif, dan saya berpikir tentu saya yang paling
ganteng. Karena pada dasarnya manusia diciptakan dalam
sebaik-baik bentuk. Hatta, menurut saya, seseorang dilahirkan
dalam keadaan cacat, ia adalah manusia dengan sebaik-baiknya
bentuk. Nah, ada satu kekurangan saya, kalau memang ini bisa
disebut sebuah kekurangan, saya tidak bisa mengucapkan huruf
R. Kata orang sih namanya cadel, atau pelo kata orang jawanya.
Bagi saya kekurangan ini bukanlah variabel yang menentukan
kesuksesan seseorang di akhirat sana. Betul bukan?
Nah, sekarang saya perlu menceritakan motivasi, impian,
harapan dan cita-cita saya kenapa ingin bergabung dengan
komunitas penulis di Forum Lingkar Pena ini. Dulu, setahun
yang lalu, ada motivasi duniawi yang mengiringi saya. Saya
ingin jadi penulis terkenal, membuat banyak buku, dan
lain-lain. Saya perlu wadah, sebuah batu loncatan dan saya
pikir FLP adalah sarana yang tepat, segalanya.
Sebuah motivasi yang membuat saya lupa bahwa niatan itulah
yang akan membuat saya tersungkur dengan wajah yang tertekuk
diseret para malaikat dan diceburkan pada sebuah wahana
kepedihan dan kesengsaraan, karena semata-mata hanya mengharap
pujian dari manusia belaka. Dan saya pikir semua penulis rawan
atas bahaya dari sebuah nikmat duniawi berupa pujian melangit.
Saya berlindung kepada Allah atas semua itu.
Pada akhirnya, pada sebuah kontemplasi, saya pikir semua itu
sudah terlalu jauh. Kini, saya senantiasa berusaha keras untuk
bisa meneguhkan hati agar bisa meluruskan niat. Dan motivasi
teranyar dan terupgrade pada diri saya adalah saya ingin
senantiasa belajar dan terus belajar menulis. Tidak kurang dan
tidak lebih. Bagi saya, saat ini, menulis adalah sebuah
kebutuhan. Dan harus selalu terasah. Maka sebuah harapan indah
di FLP adalah saya bisa mengasah kemampuan menulis saya.
Menulis untuk sebuah pencerahan, untuk diri saya, dan tentunya
untuk orang lain.
Cita-cita? Tidak muluk-muluk, menjadi seseorang yang berguna
bagi diri saya sendiri, FLP, dan tentunya orang lain pula. Itu
saja. Semoga tulisan ini bisa menggambarkan apa adanya saya.
Semoga Allah pun meridhai upaya saya ini.



Riza Almanfaluthi
http://dirantingcemara.blogspot.com
tepat di menit ke-30
mulai 17.27 s.d. 17.56
(tambah beberapa detik untuk sedikit editing)