09 April 2007

Libur, Berenang, Satu dari Mereka akankah Jadi Pahlawan?

11.7.2005 - Libur, Berenang, Satu dari Mereka akankah Jadi Pahlawan?


Tak terasa, liburan akhir telah datang. Saya sebagai “Kepala Sekolah” kudu mempersiapkan acara liburan bagi anak-anak TPA Al-Ikhwan—tempat bagi anak-anak di RT. 011 belajar Islam dan mengaji setiap Senin, Rabu dan Kamis. Tahun kemarin kami berlibur di sebuah kolam renang khusus milik perorangan di Jalan Dahlia I, Depok.

Ternyata setelah diadakan pemungutan suara—ada pembelajaran demokrasi sejak dini—dari berbagai pilihan lainnya seperti di Kebon Raya Bogor, Kebun Binatang Ragunan, mayoritas anak-anak sepakat untuk kembali liburan ke kolam renang. Kata mereka Bogor macet, soalnya ada anak presiden kawinan (loh kok mereka tahu), sedangkan kalau ke Ragunan mereka takut wajahnya disamakan dengan para monkey. “Emang kita saudara mereka…?” cetus salah satu dari mereka. “Nehi….tum mereke jenehe” sahut yang lain. Apaan tuh artinya? Ada-ada saja.

Akhirnya jadi acara tersebut Sabtu 09 Juli 2005. Setiap anak dipungut Rp2.500,00 untuk tiket masuknya. Itu adalah limaperenam harga tiket sebenarnya. Sisanya kami yang subsidi. Kali ini tidak ada subsidi tiket total dari kami. Soalnya acara ini dadakan dan belum mempersiapkan proposal permintaan dana kepada donator utama kami yang ada di KPP PMA Lima. Biaya lainnya kami yang tanggung.

Berangkatlah kami pada pukul 08.00 WIBC (Waktu Inondesia Bagian Citayam) dengan Angkutan Kota (angkot) yang kami carter, dengan membawa 16 anak-anak dan tiga dewasa. Saya dengan megapro keluaran Februari 2005 menjadi penunjuk arah. Pengantar lainnya dipersilahkan untuk membawa kendaraannya masing-masing. Soalnya nggak muat angkotnya boo…

Setelah mengarungi kemacetan di mana-mana, pukul 09.15 WIB kami sampai. “Lama juga,” pikirku, padahal jaraknya tidak lebih dari sepuluh kilo. Akhirnya mereka pun bersenang-senang. Suara tawa dan jerit mereka menambah semarak acara. Apalagi pada saat dilangsungkannya berbagai permainan, tambah seru. Hadiah pun diberikan tidak hanya kepada para pemenang namun semuanya sehingga kebersamaan itu tampak sekali.

*****

Saat anak-anak adalah saat-saat yang indah. Saat dimana mereka belum menemukan dan menyadari eksistensi mereka. Mereka hanya mengenal tiga kata yakni main, main, dan main. Maka yang kami ajarkan di TPA adalah tidak semata-mata Iqra namun juga berbagai macam permainan yang setidaknya menumbuhkan jiwa mandiri, semangat membaca dan menulis (untuk hal ini perlu upaya lama untuk memberikan pengertian kepada mereka bahwa menulis itu penting dan mudah), semangat juang dan pembelaan terhadap Islam. Hingga untuk itu kami bebaskan mereka bermain pada saat mereka ngaji asal tidak mengganggu teman-teman mereka yang sedang kami telaah bacaan Iqra-nya.

Agar mereka tidak jenuh dengan suasana klasikal di rumah maka dari itulah diadakan acara berenang bersama di liburan ini, diharapkan dengan ini mereka menjadi tetap bersemangat untuk selalu belajar dan belajar sampai akhir hayat mereka. Satu yang lain yang diharapkan adalah munculnya salah satu atau lebih dari mereka menjadi “pahlawan-pahlawan Islam”. Semoga Allah mengabulkan do’a ini. Amin.






riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara

di antara sakit sebagai teman yang tak kunjung pergi

kalibata, 11 Juli 2005

No comments: