17 April 2007

Hari ini, Saatnya Mencicipi Panganan Khas

Monday, November 14, 2005 - Hari ini, Saatnya Mencicipi Panganan Khas


Jakarta kembali pada aktivitas semula seperti hari-hari biasanya. Macet dan padatnya jalanan menjadi menu utama disetiap waktunya. Pertama karena hari ini adalah hari dimana para pekerja kembali memulai aktivitasnya setelah cuti lebaran dan yang kedua hari ini juga adalah hari kembalinya para siswa sekolah untuk memulai aktivitas belajarnya setelah liburan panjang lebaran.



Maka, pada hari ini pula seperti di kantor saya ini terlihat ramai dan semarak, berlawanan dengan hari kerja sebelumnya yang pada Jum’at lalu masih terlihat sepi. Banyak yang mengakhiri cutinya dan memulai aktivitasnya pada Senin ini dengan tidak lupa membawa oleh-oleh dari kampung halamannya masing-masing.



Ini yang membuat istimewa, kita bisa mencicipi berbagai macam panganan khas dalam waktu yang bersamaan. Ada yang khas dari Lampung berupa krupuk kemplang, kripik pisang, dan dodol durian atau panganan khas parahyangan dodol Garut, pisang bolen Kartika Sari. Wingko Babat, Bandeng Presto, Lumpia dari Semarang. Brem dari Madiun dan masih banyak yang lainnya dari berbagai macam daerah. Dan lidah ini dimanjakan oleh nikmatnya berbagai macam daya tarik khusus makanan tersebut.



Ada yang menarik di sini. Ini merupakan kesempatan bagi daerah untuk mengenalkan kembali hasil budayanya berupa makanan khasnya masing-masing yang justru melestarikan kekhasannya, setelah selama dua dekade ini bertahan dari gempuran makanan-makanan instan dan fastfood ala barat.



Karena momen lebaran menjadi momen para putra daerah yang bekerja di kota untuk kembali ke daerah asal untuk bersilaturahim, maka pada saatnya mereka kembali ke kota mereka akan menjadi agen-agen budaya daerahnya masing-masing. Peluang inilah yang harus dimanfaatkan oleh pengusaha dan pemerintah daerah setempat menjadi upaya pemaksimalan potensi ekonomi yang ada.



Seberapa besar nilai budaya yang bisa diselamatkan, seberapa tinggi potensi ekonomi yang timbul, dan seberapa banyak jumlah orang dientaskan dari pengangguran sudah tentu menjadi efek positif dari pelestarian nilai-nilai budaya panganan khas itu. Itu akan menjadi bahan pemikiran kita sebagai putra daerah—jika Anda adalah benar-benar berasal dari daerah.



Maka, hari inilah kesempatan Anda untuk turut melestarikan nilai-nilai budaya bangsa itu dengan mencicipi semua panganan khas tersebut, tentu jika Anda tidak malu untuk pergi bersilaturahim dari satu seksi ke seksi lainnya. Singkirkan rasa malu itu karena janganlah ada rasa malu untuk berbuat kebaikan dengan silaturahim, sedangkan urusan Anda ternyata bisa mencicipi pangan khas, itu adalah benar-benar berkah dan hasil dari silaturahim Anda selain akan mendapatkan pula umur yang panjang. Hari ini para pegawai seksi lain pun akan mafhum dengan kedatangan Anda entah kalau Anda datang selain pada hari ini.



Berkeliling dan cicipilah semua itu.






riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara



tidak berhenti di titik 100



09:27 14 Nopember 2004

No comments: