11 April 2007

dua perempuan dengan puisi

Monday, September 5, 2005 - dua perempuan dengan puisi


Suatu saat Azimah Rahayu dan Qoulan Syadiida menyempatkan diri untuk memberikan kesempatan kepada saya menikmati puisi-puisi mereka.

Azimah Rahayu yang genap berusia tiga puluh tahun senin kemarin, mengirim Pupus:







PUPUS

Rindu ini ternyata masih jua belum menemukan muara,
Cinta ini ternyata masih harus meneruskan kembara,
Sampai kapan dan kemana?
:Siapa yang tahu jawabnya?

Senyum sahaja mewujud dalam hati
Sebagai bukti ia mengerti,
Memahami dan pasrah pada Ilahi
Jikalah tetap ada airmata,
Maka ia hanya sekedar pengobat jiwa
Yang kembali kehilangan rasa
Seperti ketika Muhammad melepas Ibrahim ke
haribaan-Nya.

(@Azi, 4 Maret 2005: pupus yang kesekian kali)
direwind ahad, 26 Juni 2005, saat sebuah berita tiba:
seseorang akan melangsungkan pernikahannya 10 Juli
besok.


Komentar saya:

Puisi ini bagus terutama pada kalimat terakhir:

“Seperti ketika Muhammad melepas Ibrahim ke haribaan-Nya.”

Saya tak bisa membayangkan kesedihan Azi layaknya kesedihan Rosululloh ditinggalkan putra kesayangannya. Sedemikiankah?

Saya hanya berharap tak akan ada lagi Pupus yang direwind di kemudian hari.














Sedang Qoulan Syadiida dengan dua puisinya:


I. Rindu Terlarang
Apa yang lebih memeranakan

selain rindu terlarang

yang adanya terhalang

ketiadaan kehalalan



Apa yang lebih memeranakan

selain rindu terlarang

yang adanya menyelinap diam-diam

dari hati yang terbang ke langit angan



Tuhan

jika rindu ini

jika cinta ini

telah menoreh luka di kedalaman

mengapa hamba masih saja

bergeming membiarkannya mengembara

di setiap sudut jiwa

yang tak terlacak olehnya




II. Nasib Dermaga

Mungkin memang sudah menjadi nasib dermaga

harus terima kembali kapal cinta

yang sekian lama dalam kembara

mencari tambatan yang menenangkannya



Mungkin memang sudah menjadi nasib dermaga

membuka ruang seluas-luasnya

bagi setiap kapal cinta

yang kelelahan dan hendak

kembali berlabuh padanya..







****







Azi berkomentar terhadap dua puisi ini:

“hmmm, puisimu asyik meski pedih banget hehehe, tapi kok rasanya gue banget.”



Sedang saya hanya berkomentar untuk dua puisi ini:
“Saya suka dua paragraph pembuka di rindu terlarang.

Di paragraph ketiga akan tambah asyik lagi ditambah satu “jika” lagi untuk penekan.”



By the way, saya sangat menikmati dua puisi ini. Kalau Anda mau menyelami pemikiran dua perempuan ini sila untuk berapresiasi dan mendalaminya sampai Anda berkomentar: gue banget gitu loh.













riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara

di antara dua puisi

20:42 04 September 2005

No comments: