11 April 2007

Kantor Pos Besar Semarang, Kota Lama, dan Dugderan

Kantor Pos Besar Semarang, Kota Lama, dan Dugderan





Gambar ini di ambil pada tanggal 18 September 2005. Terlihat bangunan tua itu hanya sebagian bermandikan sinar matahari senja, karena pengambilan sudut gambar persis di ujung trotoar di depan Kantor Pelayanan PBB atau GKN II.

Semarang yang kaya dengan bangunan kuno peninggalan zaman Belanda di daerah yang disebut Kota Lama membuat adrenalin saya terpacu untuk hunting foto di daerah tersebut. Bangunan dan jalan-jalannya membuat memori saya teringat di tahun-tahun perang kemerdekaan dulu. Seperti melihat foto-foto di buku yang ditulis orang Belanda berjudul Agresi Militer Belanda, tapi ini tampak nyata di hadapan saya. Tapi senja itu saya tak sempat untuk mengabadikan yang lainnya.



Biasanya bangunan-bangunan tua berada di daerah Pecinan seperti banyak terlihat di daerah Jamblang, Cirebon dan kota Indramayu, seperti yang pernah saya lihat sekitar lima belas tahun yang lampau. Tapi entah, masihkah keasilan dan keasriannya terjaga hingga saat ini. Sedangkan kota lama yang di Jakarta seperti di daerah Beos terlihat masih terawat.



Agar masyarakat bisa memahami sejarah itu penting maka hendaknya bangunan-bangunan dan jalan-jalan itu perlu dilestarikan. Darinya bisa saja ada nilai historis yang tak ternilai. Tapi sayangnya selain diperlukan kepedulian dari masyarakat juga perlu adanya goodwill dari pemerintah kota (pemkot) sendiri. Bagaimana pemkot juga dapat mengalokasikan anggarannya untuk memelihara semua itu, tanpa tergoda oleh kepentingan bisnis yang tampaknya lebih menggiurkan.



Agar pemkot juga tidak percuma untuk mengeluarkan dana maka perlu adanya program terencana dan terukur agar masyakarat dapat mengambil manfaat besar darinya, seperti adanya agenda pariwisata di daerah tersebut. Seperti apa yang diperlihatkan oleh Pemkot Jakarta dengan adanya museum Fatahillah, atau Pemkot Semarang yang mengadakan Festival Dugderan, festival yang diadakan menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.



Festival itu diadakan di bundaran air di depan stasiun Semarang Tawang. Selain adanya pasar malam juga terdapat pedagang kaki lima yang menjual barang-barang gerabah seperti celengan, tempat makan, dan lainnya mulai dari yang kecil sampai yang besar. Festival ini akan berakhir bila esoknya adalah hari pertama berpuasa.



Selain itu, program peduli bangunan kuno perlu juga dilakukan oleh Dinas Pendidikan Pemkot dengan menyelenggarakan tur tahunan bagi anak-anak sekolah di daerah kota lama. Atau menyelenggarakan lomba penulisan dengan garis besar tema adalah penyelamatan dan pemeliharaan bangunan kuno, atau tema historisnya. Yang diharapkan dari semua itu timbul kecintaan terhadap kota lama yang dimulai dari diri kita sendiri hingga ke anak cucu.


riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
di antara—sekali lagi—ala kadarnya
10:41 19 September 2005

ps.
Untuk foto Stasiun Tawang, dan arena Dugderan tidak bisa saya tampilkan di sini, karena membutuhkan waktu yang sangat lama untuk upload file-file tersebut.

No comments: