18 April 2007

Jejak Lalu pada Boulevard of Broken Dreams

Monday, February 6, 2006 - Jejak Lalu pada Boulevard of Broken Dreams


Dulu seorang kawan berlama-lama berpisah dengan sang bidadari tercinta hingga tak sanggup memendam kerinduan di antara waktu-waktu sepinya, sunyinya, sendirinya. Hingga ia tak sanggup mendengar hujan yang merintih di atas genting, kabut yang menguap di setiap paginya, embun-embun yang mengelopak di setiap tangkai rumput, air sungai yang menggelorakan hasrat, dan pada lagu-lagu yang khusus dibuat untuk para pecinta.

Tak perlu memintanya padaku untuk membuatkan syair, karena aku pun pasti mau membuatkannya dan memberikannya pada sahabat terbaikku ini. Sempat tersentak sudah dua purnama tak mengukir kata, maka kembali kureliefkan ia pada waktu yang terus berjalan. Dan inilah:





JEJAK LALU



siapa yang tak merindu jejak lalu

terpatri pada hamparan pasir

berbuih ombak dan

berselendang angin

hingga terhapus oleh masa



siapa yang tak merindu jejak lalu

tersusun pada bait-bait

cinta terakhir

dan selamat tinggal kekasih

hingga aku bisa terbang



siapa yang tak merindu jejak lalu

terdenting pada dawai-dawai

sang buluh perindu

berseruling malam

hingga degung penuh magis



bahkan aku merintih perih

pada saat yang tak berhenti menghinaku

pada bulan yang tega menyabitku

pada matahari yang tersenyum sinis malu-malu

jika engkau masih tetap bertanya

di mana hatiku bila masih penuh dengan bunga

jika engkau bersikeras bertanya

di mana otakku berada

hanya kerana aku masih saja mengais-ngais

tanah naifmu

hingga aku nanar

dan terkapar



cuma nafas tertahan satu-satu

meraup sedetik

hingga tak sempat bertanya:

siapa yang tak pernah merindu?





*

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

(Boulevard of Broken Dream)

21:10 05 Pebruari 2006

No comments: